Senggigi, Malam Itu.

Spread the love

Malam hari, musik mengalun lembut di kafe, secangkir kopi, rokok, dan duduk bersama teman lama. Enak? Nggak juga.

Kalau tiga orang teman nongkrongmu itu sudah menikah, berkembang biak dan beranak pinak kemudian kamu sendiri yang nggak, lagu Fly Me To The Moonnya Frank Sinatra yang dinyanyikan vokalis cewek akustikan di panggung kecil kafe mendadak serasa jadi lagunya Cita Citata tapi pake tangga nada minor. Itulah resiko yang kamu hadapi, kalau dulunya kamu membuat kesalahan dengan kebanyakan bergaul sama orang-orang yang lebih tua. Yah… Seperti yang saya rasakan malam ini.

“Kamu sudah seringan di Dompu, Han. Motormu yang di Jakarta itu nggak dibawa aja?” Salah seorang teman saya membuka percakapan, sambil memilin rokok yang sedari tadi hanya dipegangnya. Tidak dibakar.

“Oh, itu memang disimpan di sana. Saya pengen pake motor itu buat bulan madu, naik motor dari Jakarta ke Dompu. Singgah di tempat-tempat aneh sepanjang perjalanan, nginepnya pake tenda, terus ngajak istri saya ngamen sulap.” Jawab saya, sambil merebut rokok yang dari tadi dipilin melulu itu, kemudian langsung saya bakar.

Teman-teman saya memandang saya dengan heran. Saya tidak melanjutkan dan memilih diam, hingga berujar salah seorang dari mereka, “Emang ada cewek yang mau begitu?”

“Kamu pikir kenapa saya jomblo?” Saya tertawa.

Mereka hening.

Leave A Comment