Kisah Pisang Epe

Spread the love

Tahu ilmu statistika? Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Begonya, guna dari ilmu ini adalah mencari yang paling baik dengan memilah berdasarkan jumlah.

Nah, dengan bidang ilmu ini, dari 1.3 juta jiwa yang mendiami kota Makassar, oom Qingliang Yang memilih orang Dompu untuk ngajak jalan-jalan dua kerabatnya yang mendadak datang ke kota di Sulawesi Selatan, yang dahulu bernama Ujung Pandang ini. Siapa lagi kalau bukan orang paling brengsek yang bisa anda kenal. Yang di Makassar seumur hidupnya cuma itungan bulan. Saya.

Pastinya dengan menggunakan ilmu statistika, dari sekian banyak rumah makan di Makassar, dua orang kerabat beliau dari Jawa Timur ini sesampainya di Makassar langsung memilih masuk ke rumah makan jawa. Saya menemui keduanya malam itu, paman dan kemenakan, tengah makan nasi campur dengan sambal dan kuah kental manis yang levelnya Jawa banget di jalan Sulawesi. Pandangan mata mereka ke saya seolah mengatakan “Aku nang mburimu…”

Jadi, karena keduanya sudah kenyang, saya ngajak keduanya nongkrong di Losari. Tempat di mana ada satu-satunya gerobak kopi yang bener-bener punya ahli peracik kopi yang disebut Barista. Gerobak Kafein namanya. Seantero Makassar, gerobak kopi yang jago Baristanya menurut saya cuma ini. Kafeinnya oke. Energi buat meleknya kalah-kalah iklan almarhum Mbah Maridjan. Makanya, kalau mesan, saya selalu ngembel-ngembelin “Nadine? Cappuccino buatanmu… Roso-roso!”

Oh ya, baristanya cowok, brewokan, berotot, dan namanya pasti bukan Nadine.

Terkait dengan ilmu statistika, demi melihat gerobak sejenisnya yang ratusan memanjang dari ujung ke ujung di Losari, saya memesan pisang epe sebagai temen ngopi. Khas Makassar tawwa, pikir saya. Pisang epe, adalah makanan ringan berupa pisang yang dipanggang. Setiap gerobak memajang menu pisang epe yang beraneka rasa. Ada keju, stroberi, duren, macam-macamlah. Nah, di Makassar, gerobaknya emang bejibun.

Maka tidak lama kemudian, datanglah ibu-ibu dari gerobak sebelah, membawa pisang epe. Rasa durian, itu yang saya pesan. Terdengar mantap, bukan? Entahlah. Yang di lidah kami rasakan hanyalah pisang dan gula aren. Tidak sedikitpun terasa atau tercium rasa khas buah berduri itu. Kesan pertama bagi kami, termasuk saya tentunya, yang seumur-umur baru kali itu makan pisang epe, hanya satu. Pisang epe itu pemberi harapan palsu.

Miris, semiris-miris, membuat saya memutuskan bahwa kami harus move-on dari pisang epe. Untuk obat move-on, setelah keduanya istirahat semalam, dari pagi kami jalan-jalan. Ke Fort Rotterdam lah, Trans Studio lah, ngeliat matahari terbenam lah, banyaklah. Pokoknya sampai trauma akan betapa PHP-nya pisang epe hilang. Sampai akhirnya tengah malam tiba, saya berpisah dengan mereka, dan berjanji untuk datang lagi besoknya.

Tadi siang, kembali saya menjemput mereka berdua. Jalan-jalan hari terakhir sebelum keduanya balik dengan pesawat, kembali ke pulau Jawa.

“Blek, tadi malam, pas kamu balik, kita beli lagi pisang epe rasa durian dari penjual lain. Mungkin yang sebelumnya itu memang salah pesan.”

Saya memandang mereka dengan takjub dan menyahut, “Oh ya? lalu?”

“Ternyata sama aja…”

Leave A Comment