Kokoro No Placard – Papan Penanda Isi Hati

Spread the love

Hai! apa kabar? Baik?

Aku sedang jauh dari kampungku. Yang kuharapkan saat ini sebenarnya cuma dua. Berada di Dompu saat Angsana, yang kusebut sakura kuning, bermekaran kemudian gugur ditiup angin untuk kupandang lama. Yang satunya lagi, tentu memandangnya bersamamu, walau diriku pastinya takkan mampu mengucapkan walau sepatah kata.

Muluk, ya? Iya. Muluk banget, malah. Jadi kuganti saja dengan harapan agar kamu selalu sehat dan bahagia. Selalu…

Entahlah, aku tidak tahu ingin menulis apa. Aku hanya tahu bahwa aku ingin menulis surat untukmu, tapi bahkan sampai paragraf ini, aku tidak tahu apa yang bisa kuceritakan. Pikiranku hanya dipenuhi keingintahuanku tentang kabarmu. Misalnya, sudahkah kau makan? Adakah kejadian yang menarik bagimu hari ini? Tapi yah, siapalah aku ini. Hahaha… Toh surat ini nasibnya sama dengan surat-surat sebelumnya. Tidak bisa terkirim ke kamu.

Ah, bagaimana kalau aku bicara saja tentang lagu? Aku masih ingat lagumu yang pernah kau perdengarkan padaku. Dan aku juga masih ingat, saat kuperdengarkan laguku, kau tertawa. Iya, lagu dangdut. Temanku yang lain juga tertawa jika mereka mendengar dangdut. Kenalan-kenalanku di Bogor bahkan pernah memotretku, yang saat itu meminjam sebuah komputer, sebuah iMac, untuk memutar lagu Hujan Di Malam Minggu. Tahukah kamu alasan utama mengapa salah satu jenis musik yang paling kusukai adalah dangdut?

Tidak, kok. Ini bukan masalah nasionalisme. Sebenarnya, kesukaanku akan dangdut adalah indahnya dua hal yang sering dijumpai bertolak belakang pada dangdut. Lirik dan musiknya.

Sesuatu yang disebut musik, memiliki tangga nada. Tentu kamu tahu bukan? Ya. Do, Re, Mi, Fa, So, La, Si, dan Do Tinggi. Nada itu bunyi. Bunyi itu nada. Suara gemericik air itu bunyi. Suara desiran halus rambutmu yang ditiup angin itu bunyi. Semuanya memiliki nada. Agar bunyi, si nada ini bisa dirumuskan untuk kemudian dimainkan, manusia membuat polanya, yang disebut tangga nada. Dari banyak tangga nada di dunia ini, ada dua yang paling populer. Tangga nada mayor dan tangga nada minor. Nah, tangga nada yang kamu ketahui itu, Do sampai Do Tinggi, bernama tangga nada Mayor.

Tangga nada mayor, akan menciptakan lagu-lagu yang terdengar bahagia, gembira, bersemangat. Tangga nada minor? Tentu sebaliknya. Lagu yang tercipta dari tangga nada minor akan berkesan sendu. Ini semua bisa terjadi karena tiap perpindahan nada, memiliki tinggi nada yang berbeda. Ada yang naik penuh, ada yang naik setengah.

Misalnya, dari Do ke Re, agar sebuah nada Do menjadi nada Re, nada Do tadi dinyanyikan lebih tinggi satu tingkat. Ini berbeda dengan nada Mi dan Fa. Untuk membuat sebuah Mi menjadi Fa, cukup Mi dinyanyikan setengah tingkat lebih tinggi. Gampang, bukan?

Nah, sebuah tangga nada mayor, jarak antar nadanya itu, dari Do ke Do, adalah satu-satu-setengah-satu-satu-satu-setengah.
Do -1- Re -1- Mi -1/2- Fa -1- So -1- La -1- Si -1/2 – Do. Nah, ini tangga nada Do mayor. Orang-orang biasa menyebutnya C mayor.

Perbedaan posisi naiknya setengah nada inilah yang membuat sebuah tangga nada mayor terdengar gembira, sedangkan tangga nada minor terdengar sedih. Jarak antara tiap nada pada tangga nada minor adalah satu-setengah-satu-satu.
La -1- Si -1/2- Do -1- Re -1- Mi -1/2- Fa -1- So -1- La. Nah, kalau ini La minor. Sering disebut A minor.

Ketika seseorang ingin memulai minornya dari Do, misalnya, itulah gunanya tuts hitam di piano. Tuts hitam pada piano, lebih rendah setengah nada dari tuts putih di samping kanannya.

Tapi, untuk merasakan beda sedih dan tidaknya mayor dan minor, tuts hitam tidak perlu dipakai. Cukup gunakan saja tangga nada Do mayor dan La minor tadi. Misalnya, bagian awal dari lagu Ibu Kita Kartini dengan tangga nada Do mayor. Dooo re-mi faaa soool mi-do. Saat dinyanyikan dengan tangga nada La minor, menjadi Laaa si-do reee miii do-la. Terdengar lebih sedih, bukan?

Nah, meski liriknya sedih sekalipun, dangdut dinyanyikan dengan tangga nada Mayor. Liriknya sedih, tapi dinyanyikan dengan menyenangkan. Sangat menyenangkan, sehingga mereka yang bergoyang mengikuti iramanya akan mengangkat dua jempol ke udara. Entahlah. Aku melihatnya sebagai filosofi, falsafah kehidupan yang cukup bermakna. Seolah berkata, sesedih apapun kamu, tersenyumlah. Jika kamu gagal sekalipun, tertawalah. Sepedih apapun, bergembiralah.

Dan tipe-tipe lagu yang sama, sering kutemukan di lagu JKT48, yang disadur dari lagu-lagu AKB48. Lagu-lagu dengan syair sedih yang dinyanyikan dengan gembira. Misalnya Kokoro no Placard.

“Papan penanda isi hati. Padahal jika engkau melihat, pasti akan mengerti, perasaanku…”

Leave A Comment