Bisul

Spread the love

Wah, pagi ini saya bangun pagi dengan suasana pegunungan. Yoa, saya lagi di Bulupoddo, dusun Saharu, desa Lamatti Riattang. Di rumahnya pak Ambo Tang, bapaknya Asrar. Kampung di sebuah dataran tinggi campur hutan di Sinjai, Sulawesi Selatan.

Oh, dan saya di sini memang sepertinya ditakdirkan untuk membedah Alex. Anak Tana Toraja yang nyasar ke mari. Alex punya bisul, sebesar telur puyuh. Bisul itu sudah matang, terlihat dari beberapa titik putih yang sering disebut mata bisul. Kalau dibedah, pasti indah sekali.

Saya memang orangnya nggak tegaan sama hewan, tapi kalau manusia bedarah-darah, wow! Entahlah bagaimana saya bisa mendeskripsikan perasaan keren yang membuncah di dada saya selain kelainan mental.

Jadilah pagi yang dingin menghangangat oleh dua hal. Sinar mentari pagi yang menyeruak diantara kerimbunan daun dan teriakan mengaduh pilu si Alex yang bisulnya saya gores pake silet panas tanpa bius ataupun pain killer. “Aduuuh! Auuu! Perihhh!”

Silet yang digunakan memang silet bekas alat cukur jenggot bapaknya Asrar. Yah, agak tumpul dikit lah. Maka, saya bilang ke Alex. “Manusia itu mahluk pembanding. Kalau masalah sakit, misalnya. Saat ada sesuatu yang lain yang lebih sakit, sakit yang lain tidak akan diperdulikan oleh otak. Tidak terasa.”

“Kamu pernah punya mantan, Alex?” Tanya saya yang menghentikan sejenak operasi bedah bisul itu, mulai merasa kasihan dengan erangannya. Yah, saya masih punya rasa kemanusiaanlah.

“Punyalah bang.” Sahutnya dengan mimik meringis campur heran.

“Bagus. Bayangkan saat kamu putus. Sakitnya lebih perih dari ini.”

Leave A Comment