Naik Phinisi Ke ILC

Spread the love

“Sudah, jangan banyak tanya, besok pagi saya kasih kabar!”

“Sudah, jangan banyak tanya, pokoknya sekarang kamu langsung ke Bima!”

Dua kalimat itulah yang diucapkan guru brengsek bernama M. Olan Wardiansyah ke Herpiko Dwi Aguno melalui telpon, yang membuat si Piko dengan semangat menggebu-gebu menjemput Andi di Lombok Timur, untuk kemudian berangkat ke pelabuhan Bima, menunggu kapal barang yang dijanjikan, untuk berangkat ke Sinjai, menghadiri ILC.

Apa lacur, sesampainya saya bersama mereka di pelabuhan Bima, kapten kapal bermuatan bawang yang seyogyanya mengangkut kami membatalkan perjanjian. Mungkin karena melihat penampilan si Piko yang mustahil untuk diselundupkan sebagai anak buah kapal. Terlalu canggih, mungkin. Entahlah. Katanya, jika nanti masuk melalui pelabuhan Makassar, akan ada pemeriksaan, yang jika ketahuan bukan anak buah kapal, dendanya 15 juta perkepala. Maka, karena kondisi dan waktu yang tidak cukup, dicarilah kapal lain. Singkat cerita, setelah 200k uang tutup mulut untuk syahbandar, 100k untuk dokumen profesionalitas pelaut, dan masing-masing 500k untuk tiap orang, naiklah seorang juru mesin, seorang navigator, dan seorang petugas radio ke kapal lain. Sebuah kapal kayu dengan panjang 15 langkah dan lebar 5 langkah, berjenis Phinisi yang memuat puluhan ekor kerbau ke Jenneponto. Yoa, tiga staff ahli itu kami, tentunya dengan surat izin yang layak diperiksa. Siap menyebrangi samudra Indonesia.

Kapten kapalnya masih seumuran saya, dengan ABK yang jauh lebih muda lagi. Saudara dan adik-adiknya. Kapal itu usaha keluarga, rupanya. Dia menjabat tangan saya, dan berujar dengan logat Makassar yang kental. “Pandai bassa Makassar kah?” “Blablabla tawwa, blablabla kodong, blablablablabla pete-peteji.” Sahut saya dengan mantap. Hanya dengan tiga kata, cosplay saya sebagai Daeng Blek terasa sempurna. Si kapten melongo.

Demikianlah, kapal bertolak dan dari kejauhan, berkedip mercusuar di Asakota, Bima melepas kami. Bulan pasca purnama dengan semburat jingga kemerahan terbit perlahan, seiring polaris yang bersinar redup menggantung dua jengkal di ujung haluan kapal, menunjuk arah utara. Puluhan kerbau di dek melenguh perlahan, menemani Piko yang bersender di sisi buritan. Rencananya ke Sinjai untuk mengikuti Indonesia Linux Conference berubah total menjadi rencana ngajak pak Olan duel gulat.

Dan nama kapalpun seakan berubah menjadi Queen Anne’s Revenge.

Leave A Comment