Chan, Teman Saya

Spread the love

Saya punya teman. Biasa kami panggil dengan panggilan Chan. Chan cukup tinggi, walaupun tidak setinggi saya. Fisiknya cukup tangguh. Dia bahkan tidak pernah absen sebagai anggota tim inti lomba jalan 45 kilo setiap tahunnya. Orang akan sangsi jika melihat badannya kurus kerempeng. Jika dia masuk ring tinju, dengan berat badannya, saya yakin Chan akan sukses besar di kelas terbang anti gravitasi.

Biasanya, saya dan Chan kongkownya di rumahnya si Gatot. Bengkel las merangkap bengkel otomotif merangkap peternakan bebek merangkap tempat servis Optimus Prime. Megatron juga sering keluar masuk bengkel milik bapaknya Gatot itu. Tapi, sejak Gatot memutuskan untuk beranak-pinak, sekarang kami pindah lokasi ke rumahnya si Opin. Kebetulan, di sana banyak peralatan bengkel juga.

Oh, tidak. Si Opin nggak buka bengkel, kok. Dulu memang pernah buka, tapi nggak diterusin. Sekarang sih jadi workshop segala jenis motor. Jadi, kalau kalian lewat di jalan Nusantara, kalian bisa mendengar suara denting dan derum mesin bergantian dengan suara azan mesjid Bada yang hanya dipisahkan oleh jalan dengan rumahnya si Opin. Sebrengsek-brengseknya orang Dompu, kalau denger suara dari mesjid pasti ngalah.

Nah, sore itu, saya motong rantenya si Toothless. Dihilangin satu mata biar pendekan. Ini cara jitu buat ngakalin drat anting setelan rante yang udah mentok tapi tetap longgar, atau gir yang sudah aus sehingga rante kendor. Ketimbang ganti, lumayanlah masih bisa dipake beberapa… Uhuk…! Ratus… Uhuk…! Kilo lagi.

Nah, pas rantenya dicopot dan dibawa sama si Saddam yang paling jago motong rante, entah kenapa Win 100 bernama Toothless yang tak berante itu jadi terlihat sangat keren. Saya langsung berujar, “Wow! Sumpah keren! Tinggal bagaimana mesin bisa muter roda belakang, kan? Gimana kalau mesinnya dipasang di spanger belakang saja, terus kita pasangin gardan kayak mobil, terus…”

“Nggak De Paan, ada cara yang lebih bagus.”

Saya menoleh. Rupanya Chan yang angkat bicara. Sambil serius ngoprek kop motornya, dia meneruskan.

“Jadi, gir mesin sama gir belakang itu kita pasangin Bluetooth…”

Leave A Comment