Surat Lagi, Untukmu

Spread the love

Hei, apa kabar?
Kuharap kau sehat, dan senyummu selalu mewarnai hari-harimu.

Iya, ini surat yang kutulis hanya karena ingin. Yang sampai ke kamupun rasanya tidak mungkin. Dan, masih, diri ini bingung ingin menulis apa.

Ah, iya. Si Toothless, kemarin ganti plat. Perpanjangan setiap lima tahun sekali itu. Jadi, sampai bulan keempat tahun 2019, dia akan tetap bebas merambah tanah air, berbakti bagi negeri ini. Lucu, ya? Bahkan di surat yang tidak akan terkirim ke alamatmu ini, cowok bodoh ini hanya membicarakan tentang sepeda motor. Entahlah. Bagiku, sepeda motor itu indah, unik. Seperti kamu.

Masihkah kau ingat? Aku pernah menjelaskan padamu, dengan semangat, tentang keindahan yang mungkin bagimu bodoh tentang sepeda motor, bukan? Listrik pada sepeda motor yang menggunakan sistem pengapian elektronik, dihasilkan oleh magnet yang mengitari spull pada bak mesin di samping kirinya, yang berputar saat pertama kali engkolnya distater. Sama seperti generator listrik. Listrik ini akan masuk ke CDI. Dulu, saat masih menggunakan sistem pengapian konvensional, alat yang kerjanya mirip dengan CDI ini disebut platina. Tugas CDI ini, adalah membuat listrik itu nyala dan mati. Listrik yang nyala dan mati kemudian nyala dan mati lagi ini, dialirkan ke bobbin. Banyak juga yang menyebutnya koil. Dialah yang membuat listrik ini semakin tinggi tegangannya, ada yang mencapai puluhan ribuan volt.

Nah, listrik yang ini, akan dialirkan ke busi, sehingga busi bisa menyala, bisa memercikkan api. Sehingga bisa membakar campuran bensin dan udara dari karburator. Ini terjadi di dalam ruang bakar, tempat busi itu ditancapkan. Campuran bahan bakar ini diledakkan di sana, dan ledakan itulah yang membuat piston motor maju mundur. Saat campuran bahan bakar itu meledak, piston terdorong ke belakang. Mengayuh sebuah poros, sama seperti di pedal sepeda, atau seperti ban lokomotif tenaga uap. Kemudian, sisa pembakaran dibuang melalui knalpot, sehingga ruang bakar menjadi vakum. Kondisi vakum ini, membuat piston tertarik lagi ke depan, sehingga poros itu berputar satu putaran. Itulah mengapa listriknya harus nyala dan mati, menyesuaikan dengan timing pembakaran.

Putaran poros itu, selain memutar ban motor, juga memutar generator listrik tadi. Yang terdiri dari magnet dan spull yang ada di mesin sebelah kiri. Proses itu berulang kembali, terus terjadi, selama mesin dihidupkan, sehingga sepeda motor bisa berjalan. Indah, bukan?

Indah, tentu. Masing-masing alat dalam proses itu tentu tidak pernah tahu, apa yang terjadi dengan listrik yang mereka olah. Mereka hanya berjuang semampu mereka untuk memberikan yang terbaik, hingga habis usia mereka, untuk membuat alat di sebelahnya tetap hidup. Sederhana, tapi indah.

Sapardji Djoko Damono memiliki puisi yang indah penggalannya. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Begitu pula aku. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan spull kepada busi saat membuatnya menyala.

Bahagialah selalu…

Leave A Comment