Tentang Bahasa Dompu Saya

Spread the love

Saya akui, bahasa Dompu saya tidak sempurna. Saya sering diejek, terkait hal tersebut. Mungkin karena saya selalu berusaha menggunakannya di berbagai kesempatan, tetapi sering nyampur dengan bahasa Indonesia, dan dengan logat yang terdengar sedikit aneh, mungkin, di telinga orang-orang.

Misalnya jika saya datang nongkrong ke kantor KPU. Orang-orang di sana mengatakan bahwa cara saya berbicara “wara sakodi narina”. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya “rada geli-geli gitu”. Padahal, sumpah, saya tidak ada niat sama sekali untuk jadi cowok geli. Apalagi cowok gatel.

Lain lagi kalau saya ke rumah teman saya di Karamabura. Orang-orang di Karamabura, adalah keturunan Donggo, yang bangga akan keaslian mereka, terutama bahasa. Logat mereka saja benar-benar beda total dengan bahasa Dompu logat Bada yang biasa saya dengar sehari-hari. Kadang, bahkan, saya butuh waktu sekian detik untuk menangkap apa yang mereka bicarakan satu sama lain jika mereka masuk ke mode full Donggo. Saya merasa seperti Zabrak di kampung Klingon. Udah lain planet, filmnya beda, pula.

Yang membuat saya benar-benar merasa “diasingkan” di Karamabura, mungkin karena saya sering salah menggunakan kata. Saya pernah diketawain karena menggunakan kata “eda” padahal seharusnya “tio”. “Eda” dan “tio” memang memiliki arti yang sama dalam bahasa Indonesia. “Lihat”. Hanya saja, “eda” digunakan pada kalimat yang mengacu pada fungsi mata, misalnya “loa eda” – “bisa melihat” atau “nahu eda” – “saya melihat”. Sedangkan “tio” digunakan untuk kalimat yang mengacu pada pekerjaan, misalnya “lao tio cou ta tando” – “pergi lihat siapa di depan”.

Sehingga, ucapan “lao eda cou ta tando” sudah cukup untuk membuat mereka menisbatkan kemampuan bahasa saya sebagai “ngenta”, kata level hinaan untuk menyebut nasi yang matang nggak, mentah juga nggak.

Bahkan, saat saya mencoba menjelaskan jawaban sebuah permasalahan ke adik teman saya itu, teman saya mengatakan “Sudahlah Blek. Jelaskan dalam bahasa Indonesia saja, ketimbang maknanya ntar salah.”

Saat itu juga, erupsi Tambora 1815 kembali terjadi bagi saya. Dasar brengsek.

Biasanya, kalau akhir minggu, saya berhenti kelayapan dan ngetem ke rumah tempat orang tua saya tinggal. Nah, hari ini, ibu saya bikin ikan masak kuning. Ibu saya sering diberikan harga murah untuk kepala ikan dari pedagang ikan kenalannya di pasar.Kadang beli satu gratis lima, malah. Jadi, dengan duit sedikit, hasilnya bisa satu kuali gede. Masakan ini enak, seperti biasa. Tapi, saya merasa ikan yang digunakan bukanlah ikan yang biasa saya makan. Jadi, saya tanya ibu saya dengan bahasa Dompu. “Mom, uta au ke?” Artinya, “Mom, ikan apa ini?”

“Oh, uta… Err…” Ibu saya terdiam sesaat, berpikir, kemudian melanjutkan dengan penuh percaya diri.

“Ikan Scott. Na caru, ha? Sepuluh ribu saja loh.”

Saya merasa tidak lagi sendiri…

Leave A Comment