Apa Yang Dilakukan Orang Dompu Untuk Merayakan 17 Agustus

Spread the love

Apa saja kegiatan yang dilakukan di daerahmu untuk menyambut 17 agustus? Kalau kamu merasa hidup kamu hampa atau kamu perlu pembuktian diri, datanglah ke Dompu. Orang Dompu punya lomba spesial untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Lomba jalan 45 kilo namanya, dan ini dilakukan sejak lama, sehingga sudah mengakar dan menjadi bagian dari budaya.

Seperti namanya, lomba ini adalah kompetisi jalan kaki beregu dengan jarak tempuh 45 kilo meter. Lomba ini dimulai tengah malam sampai pagi. Peserta berangkat dari desa atau kelurahan asalnya ke sebuah lokasi yang sudah ditentukan, jauh di luar kota, untuk kemudian berjalan kaki sampai garis finish yang ada di Dompu. Adapun peraturannya, secara garis besar adalah sebagai berikut:

1. Barisan harus tetap rapi. Jika berantakan, keluar barisan, ada yang ketinggalan dan sebagainya, diskualifikasi.

2. Apapun yang terjadi, penggantian peserta hanya boleh dilakukan di dua pos yang disediakan. Jika dilakukan di tengah jalan, diskualifikasi.

3. Peserta cadangan dibatasi hanya empat orang. Jika lebih, diskualifikasi.

4. Satu tim harus mengenakan pakaian yang seragam. Jika tidak, diskualifikasi.

Terdengar biasa, bukan? Saat ini kamu merasa daerah kamu juga punya lomba yang mirip, bukan? Oh tidak, bukan Dompu namanya kalau acara spesialnya biasa-biasa saja. Karena itulah, ada peraturan terakhir, yang membuat segalanya berubah. Dari lomba jalan biasa, menjadi war fare, battle field. medan perang, tempat bertempur memperebutkan harga diri antar kampung yang mengirimkan tim yang penuh dengan adu ketahanan fisik, psikis, dan strategi. Peraturan nomer lima.

5. Semua peraturan yang sudah disebutkan tidak berlaku jika tidak ketahuan juri.

Itulah peraturan terakhir. Karena prakteknya, saat berjalan sejauh itu, tidaklah mungkin peraturan tentang kerapihan dan tetek bengeknya dilaksanakan. Pastilah ada yang butuh buang air, salah urat, keseleo, pingsan, kekurangan cadangan, dan sebagainya. Karena itulah, peserta acara lomba jalan 45 kilo ini dibagi dalam posisi-posisi yang memiliki tugas masing-masing.

Yang pertama, adalah tim inti. Peserta. Merekalah yang dinilai oleh juri. 35 orang berseragam yang tugasnya adalah jalan, jalan dan jalan, apapun yang terjadi.

Yang kedua, adalah divisi logistik. Tugas mereka adalah membawakan minuman, makanan, permen, termasuk borehin balsem ke kaki peserta, dan hal tersebut dilakukan saat peserta jalan. Tidak berhenti. Merekalah yang bolak-balik dari mobil yang mengangkut bekal ke peserta, yang berjalan pelan bersama peserta sepanjang rute lomba. Logistik juga bertugas mendokumentasikan timnya dengan kamera, berteriak memperkenalkan timnya saat masuk ke sebuah desa, dan mengurus mereka yang cedera di tengah jalan.

Yang ketiga, adalah divisi intel, alias recon. Tahukah kamu? Juri lomba ini lebih dari satu, dan mereka bersembunyi sepanjang jalan sambil menilai peserta. Bisa di semak-semak, pohon, rumah, kerumunan warga, dan semacamnya. Untuk itulah intel alias recon dibutuhkan. Tugasnya adalah diam-diam lari ke depan, mencari tahu posisi juri atau ada tidaknya juri di depan, untuk kemudian lari kembali ke belakang dan melaporkannya, sehingga “pelanggaran” seperti barisan tidak rapi karena ada yang buang air, jalan yang tidak seragam langkah kakinya, sampai ganti peserta di tengah jalan bisa dilakukan. Kegiatan “intai-mengintai” ini terus dilakukan sepanjang jalan antara para intel tim peserta dengan juri yang semuanya adalah anggota TNI Angkatan Darat, lengkap dengan baju loreng kamuflasenya.

Dan jangan bayangkan lomba ini adalah lomba di mana kamu bisa berjalan santai menghirup udara segar dan sehat. Tidak. Lomba ini murni daya tahan dan semangat. Langkah yang digunakan adalah langkah untuk jalan cepat. Juga, warga kampung yang mengikuti timnya ikut serta memberi semangat dari atas mobil yang berjalan pelan di depan peserta, membawa loud speaker beserta sound sistem orgen tunggal bertenaga diesel untuk memutar lagu. Satu tim bisa diikuti hingga lima mobil bak terbuka dan beberapa motor. Plus, peserta lomba bervariasi antara 50 hingga 100 tim. Bisa dibayangkan, lomba yang rutenya naik-turun gunung keluar-masuk desa dan hutan ini iring-iringannya meriah naujubile.

Sekarang paham kan, kenapa saya tidak menyebut ini olah raga? Ini medan tempur, kamerad!

Tapi, yakinlah. Rasa capek dan penat itu dibayar dengan perasaan hangat yang membuncah. Perasaan hangat saat rakyat yang menonton di pinggir jalan mengelu-elukan dan memberi semangat. Perasaan hangat saat gadis-gadis yang mengintip dari jendela rumah mereka melambaikan tangan mereka ke arahmu. Perasaan hangat saat kamu lewat di sebuah desa dan kamu ditawari minuman dan kue-kue yang diletakkan di atas meja di pinggir jalan oleh warga. Perasaan hangat saat kawanmu memijit kakimu yang nyut-nyutan, Atau perasaan hangat saat kamu dilepas dan didoakan oleh warga kampung saat berangkat menuju garis start. Itulah kehangatan yang bisa kamu rasakan secara langsung. Itulah saat kamu bisa melihat Dompu yang seutuhnya.

Sampai jumpa di lomba jalan 45 kilo tahun depan!

*mengenaldompubersamablek

Leave A Comment