KRI Irian

Spread the love

Saat itu, saya berada di sebuah tanjung. Dataran yang menjorok ke laut. Tanjung yang cukup tinggi, sekitar 15 meteran di atas permukaan laut. Rumput hijau di tanjung itu, tumbuh rapi setinggi mata kaki. Dari atas, bisa terlihat beberapa pulau kecil di laut yang luas membentang di hadapannya, yang berbatas dengan langit biru yang sama luasnya, yang dihiasi sedikit awan. Tanjung yang indah sekali.

Maka saya duduk di sana, beberapa menit, menikmati angin yang berhembus sejuk, yang seiring hembusannya turut menggoyangkan batang-batang rumput setinggi mata kaki. Yang mengalun gemulai mengikuti angin. Maka, ya itu, saya cengo. Melamun. Melemparkan pandangan saya yang rabun jauh sejauh yang saya bisa.

“Indah, ya?”

Sebuah suara menyapa, membuyarkan lamunan saya. Suara wanita. Saya menoleh ke belakang. Dan disanalah dia, sedang berjalan menyisir rerumputan ke arah tempat saya duduk. Sambil tersenyum, dia menyambung sapaannya barusan. “Aku juga suka pemandangan ini.”

Usianya masih muda. Dia mengenakan pakaian putih yang biasa digunakan oleh anak-anak paskibra, pasukan pengibar bendera pusaka. Hanya saja, scarf atau apapun yang dikenakannya itu berwarna biru, bukan merah. Oh, dan dia tidak mengenakan kopiah hitam paskibra. Rambutnya yang pendek, seleher, dibiarkan tergerai. Baru kemudian saya menyadari bahwa rambut itu tidak berwarna hitam. Rambutnya berwarna seperti rambut jagung. Dia tidak bermuka Indonesia-Indonesia amat. Cenderung ke bule, terutama hidungnya, yang kecil ramping. Manis cenderung ke arah anggun, kalau saya bilang. Sepertinya dia tentara.

“Udah jago ya, bahasa Indonesianya?” Ucap saya saat dia sampai di samping saya, kemudian ikut duduk. Dia tidak menjawab pertanyaan saya barusan. Dia hanya tertawa kecil. Entahlah, saya merasa tidak pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya, tapi saya merasa dekat dan familiar sekali dengannya. Ada perasaan akrab yang sulit dijelaskan. Saya lama terpaku memandangnya, dan dia sepertinya menyadari itu, kemudian menoleh ke arah saya, dan tersenyum.

“Aku suka laut di negeri ini. Pantainya, ombaknya, pulaunya yang banyak. Di tempat asalku, lautnya pekat, penuh es, bahkan pantainya. Putih semua. Di sini beda, bahkan pasirnya. Hitam, putih, abu, bahkan pink! Aku suka itu!” Jelasnya, sembari sesaat kemudian melemparkan pandangannya lagi ke laut luas di depan. “Aku juga pernah singgah di Tanjung Perak, kemudian menyisir ke arah timur dan melihat gugusan Sunda Kecil. Banyak yang melambai ke arahku. Orang-orang di negeri ini menyenangkan.”

“Saat aku pertama kali sampai ke negeri ini, komunikasiku terhalang bahasa dengan orang-orangnya. Orang-orangnya bingung, bagaimana mengurus kebutuhanku, apa yang kumau. Tapi, sambutan mereka tetaplah hangat, ramah dan menyenangkan. Aku senang, merasa banyak yang membutuhkan. Hampir semuanya membanggakanku.” Sambungnya lagi.

Oh, dia juga suka jalan-jalan di Indonesia, rupanya. Mungkin itu yang membuat saya merasa tidak terlalu canggung di dekatnya. Ada kesamaan, pikir saya. Maka saya bertanya kembali. “Saya juga suka jalan-jalan, asyik memang. Kapan itu?”

Dia memeluk lututnya yang terlipat ke depan, menopangkan dagunya di sana, dan berkata, “Saat negeri ini dijuluki Macan Asia.”

Ha? Macan Asia? Satu-satunya waktu di mana Indonesia disebut Macan Asia adalah era Presiden Soekarno. Tahun kapan itu? akhir 50-an? 60-an? Usia wanita di samping saya ini tidak lebih dari umur saya. Tidak mungkin dia setua itu, pikir saya.

Dan karena saya brengsek, saya enak aja nyablak. “Operasi plastik di mana, Non?”

“Hahaha…” Dia kembali tertawa kecil. “Aku terlihat seperti ini karena aku ini hanyalah kenangan. Kenangan bangsa ini, Indonesia.”

“Kamu ini siapa sih?” Tanya saya yang mulai bingung dengan jawaban-jawaban wanita ini, yang mulai tidak terikat hukum ruang dan waktu.

“Saudara-saudaraku, Sverdlov, Dzerzhinsky, Zhdanov, dan lainnya, memanggilku Ordzhonikidze. Tapi, negeri yang kucintai ini, rumahku yang kedua, memberikanku nama yang indah sekali.” Matanya memandang ke langit, untuk sedetik kemudian berpaling ke saya sambil tersenyum.

“Irian…”

Saya langsung terbangun dari tidur, mimpi, rupanya. Dan entah kenapa saya menangis.

*lagimasukanginketidurandiluarsemalam

Leave A Comment