Motor Vespanya Fiqry

Spread the love

Jadi, saya ngetest drive motor kawan. Sejauh lima ratus kilo lah, dari Dompu sampai Mataram. Saat saya mengambil si Tiger Betina, nama motornya, di rumah kawan saya itu, saat melihatnya saya merasa ada yang aneh. Ada yang janggal, tapi entah apa. Semakin lama saya lihat, semakin ada perasaan janggal di hati saya. Saya kemudian mengecek kelistrikannya, lampu dan kawan-kawan, serta langsam mesin. Bagus dan prima, tidak kurang suatu apa. Saya pikir karena kusam, berdebu. Maklum, baru dioprek. Jadi, saya meminta kawan saya itu untuk melapnya dengan lap basah.

Walaupun sudah dilap dan kinclong, perasaan janggal itu masih menggelayut. Saya masih tidak tahu apa yang salah dengan motor itu, tetapi tetap juga saya berangkat ke Mataram. Sepanjang perjalanan, lancar-lancar saja, tetapi saya tetap merasa ada yang aneh.

Di tengah jalan menjelang malam sekitar Plampang, kabupaten Sumbawa, lampu mulai redup, kemudian nyala, mati, dan nyala lagi. Begitu terus menerus. Saya merasa, mungkin inilah perasaan janggal itu. Saya kemudian membuka kap lampu, dan benar saja, sambungan kabel positif ke lampu hanya diisolasi dengan plastik yang dibakar. Itu menyebabkan sambungan tersebut sedikit bocor, sehingga saat sambung tersebut nempel ke bodi motor yang bermuatan negatif, kadang sambungan tersebut korslet. Saya memperbaikinya, kemudian melanjutkan perjalanan.

Tetapi, perasaan ada yang janggal dengan motor tersebut masih menggelayut. Entah apa, saya masih belum tahu.

Hingga sampailah saya di daerah Utan, Rhee, selepasnya saya dari kota Sumbawa Besar. Kap lampu copot, jatuh berserakan di jalan, sedangkan bohlamnya hilang entah kemana, ditelan kegelapan malam. Tentunya karena kap lampu motor tersebut tidak dibaut. Hanya sistem jepit, hingga rentan goncangan. Saya merasa, mungkin inilah penyebab dari perasaan janggal saya.

Tidak ada lampu? Tidak masalah. Salam satu aspal lebih kuat ketimbang salam dua jari atau salam satu jari. Lebih mengakar. Lebih kental kekeluargaannya. Oleh pengendara-pengendara motor lainnya, saya diberikan tail light escort sampai desa terdekat, kemudian dipinjami senter untuk melanjutkan perjalanan. Jadi, saya terus mengendarai motor tersebut menuju gerbang barat pulau Sumbawa, pelabuhan Poto Tano, dengan bermodalkan senter di mulut.

Tetapi, perasaan janggal tersebut masih ada. Malah bertambah kuat. Tapi tetap, saya belum tahu apa yang janggal.

Hingga sekitar dua atau tiga kilo sebelum memasuki poto tano, saya beristirahat sebentar di jalan merokok. Cukup lama saya memandang si Tiger Betina yang warna hijau pupusnya mengkilat indah tertimpa lampu jalan. Dan, sekonyong-konyong, saya tersentak kaget. Saya tahu apa yang salah dengan motor ini. Segera saya menelepon teman saya, si pemilik Tiger Betina. Dan dari ujung timur sana, dari Dompu, lewat hape, berkatalah dia dengan santai.

“Hahahaha…! Maaf Blek, saya lupa. Ternyata habis dibenerin tadi, saya lupa pasang plat nomernya.”

#fakfakfak

Leave A Comment