Si Janga

Spread the love

“Asamualaikum, sae! Au rawi ta om Blek?” Panggilnya, yang secara bahasa membuat saya gatal. “Asamualaikum, kak! Lagi ngapain nih om Blek?” Begitu kira-kira artinya, yang langsung membuat saya ngerasa status saya jadi nggak jelas. Saya ini apa? Kakak atau om? Sering sekali status saya digantung di kota kecil bernama Dompu ini.

Saat itu, saya sedang duduk di taman. Ngebantu kenalan yang laptopnya nggak bener resolusi layarnya, plus hilang suaranya. Untuk ngebenerin itu, saya butuh ngedownload dari internet, dan di taman ada hotspot gratis.

“Walekum.” Balas saya singkat. Dia usianya memang di bawah saya. Bertubuh kurus, berwajah tirus, dan rambutnya mohawk. Nama aslinya saya tidak pernah tahu. Dia anak punk yang nongkrong di taman, dan menjadikan taman sebagai rumahnya bersama beberapa kawannya yang satu gerombolan punk. Saat los-los pedagang kaki lima tutup, mereka tidur di sana. Budhe Syam, yang menguasai taman, memperbolehkan mereka dengan syarat ikut bantu bersih-bersih setiap hari, atau beli barang di pasar buat dijual lagi. Budhe Syam juga memberi mereka makan. Yah, walaupun kebiasaan mereka ngoplos spritus campur minuman serbuk Kuku Bima buat mabok-mabokan sulit berhenti, minimal kalau punya kerjaan dan makanan nggak mencuri lah. Mungkin itu pikir beliau.

Nah, karena saya nggak tau namanya, saya biasa menyebutnya Janga. Bahasa Dompunya ayam. Menyesuaikan dengan model rambutnya yang mirip jengger.

“Gimana sih kakak ini. Kok selalu jawab salam sepotong doang sih, om Blek?” Tanyanya, masih dengan menggantung status saya. Saya melepaskan pandangan dari laptop kenalan yang sedang saya oprek itu, memandangnya sebentar, kemudian balik bertanya. “Agama kamu apa?”

“Islam.” Jawabnya singkat.

“Makanya, kalau punya agama itu dipelajari. Kalau nggak, jangan ngaku-ngaku. Kasihan orang-orang yang serius punya agama, dibikin malu sama kamu.” Ujar saya. “Salam kamu, asamualaikum, beda sama assalamualaikum. Assalamualaikum itu, artinya peace upon you. Kedamaian bagimu. Kamu tau artinya asamualaikum?” Tanya saya lagi. Dia menggeleng. “Death upon you, kematian bagimu. Kamu berani nyumpahin saya, heh?” Sambung saya dan menatapnya tajam dengan sengaja.

Dia terlihat takut, bahunya mengkerut, kemudian menunduk. “Banyak maaf om Blek. Saya tidak tahu, kak.” Yayaya, saya memang om kakak, atau satu kelurahan ini menyangka panggilan saya itu Omblek. Jadi bisa mas Omblek, bang Omblek, kak Omblek, atau yang redundan sekalianlah, om Omblek.

“Oh, tidak apa. Semua manusia kan pasti mati. Makanya saya jawab walekum aja. Wa alaikum, tepatnya. Jadi, saat kamu menyalami saya dengan death upon you, saya jawab dengan same to you. Bagimu juga.” saya tersenyum. “Lagipula, itu lebih methaaalll!”

Dia tertawa, sepertinya lega karena saya tidak jadi marah. Sedetik kemudian, berkatalah dia, “Kalau begitu gini deh kak. Saya belajar Islam sama om Blek saja yah?”

“Heh. Gila kamu. Kalau kamu belajar sama saya, yang ada kamu malah stress. Kamu belajar lewat internet saja, nih.” Tolak saya sambil menyerahkan laptop yang sudah selesai dioprek ke dia. Saya menoleh ke kenalan saya, si pemilik laptop, kemudian berkata. “Laptop udah bener. Bayar saya dengan googlingin artikel-artikel Islam dasar buat anak ini, sekarang.” Kenalan itu menyanggupi, dan sayapun pergi.

Itu kejadian tiga minggu yang lalu. Nah, kemarin magrib, saya nongkrong lagi di taman. Sambil kongkow-kongkow bareng kepala preman taman, siapa lagi kalau bukan budhe Syam. Mendadak datanglah tergopoh-gopoh si Janga mohawk punk itu, sarungan. Melihat ada saya, dia mengacungkan jari jempol, telunjuk, dan kelingkingnya. Metal sign, salam metal. “Asamualaikum om Blek! Death upon you bro!”

“Walekum.” Jawab saya. Dia tertawa kecil kemudian menggeleng dan berkata, “Tidak, tidak. Main-main yang tadi. Assalamualaikum. Bune haba, sae? Apa kabar, kak?” Katanya. Saya memandangnya heran. Budhe Syam menyodorkannya segelas kecil teh manis dingin, yang langsung ditenggaknya setelah sebelumnya berkata “Saya buka puasa dulu, kak!”

Dan setelah teh itu habis, segera dia berlari ke salah satu los jualan yang belum buka di samping kami. Saya heran, maka saya mengintipnya, dan melihat si Janga sedang solat. Melihat adegan islami dari anak dengan tongkrongan dan gaya hidup tidak islami ini, saya tertawa. Saya kembali ke budhe Syam. “Itu anak kesambet apa sih, budhe?” Tanya saya heran. Budhe Syam tersenyum sambil ongkang-ongkang kaki. “Tunggu sebentar Blek. Nanti kamu tahu.” Sahut beliau sambil ngisap rokok dalam-dalam. Saya juga ngikut ongkang-ongkang kaki di sampingnya, sambil ngerokok. “Dia juga sekarang nggak minum oplosan spirtus lagi, terus puasa juga.” Sambung beliau.

Sampai kira-kira tiga menitlah, si Janga selesai solat. Dari lapak yang belum buka, terdengarlah doa si Janga. “Iyo rumae, wahai Tuhan…” saya memasang telinga baik-baik, menunggu kelanjutan doanya yang dibuka dengan bahasa Dompu.

“Jodohkanlah saya dengan Felixia Yeap…”

“Amiiin!” Teriak budhe Syam, sementara saya ngakak guling-guling.

Leave A Comment