There Is A Butterfly In My Stomatch

Spread the love

There is a butterfly in my stomatch… ~♥

Demikian apdetan status yang saya baca sambil lalu barusan. Saat iseng nyekral-nyekrol twitter, lagi cengo nggak ada kerjaan. Sepertinya, siapapun yang nulis tweet itu lagi naksir orang, atau ditiban orang. Entah, saya tidak menyelidiki lebih jauh.

Saya teringat, dulu, pas SMA kelas satu, saya punya pengalaman khusus dengan kalimat tersebut. Saya punya seorang teman. Kami beda SMA, tapi kalau lagi nongkrong di tempat balapan liar, sering ketemu, dan lama-lama akrab. Mungkin karena motor kami sama-sama based on 4-stroke underbone, cara mengucapkan motor bebek modif sistem empat langkah agar terdengar keren. Mungkin pula karena tumpukan utang kami setara di warung Bik Ine yang jualan bensin.

Nah, suatu hari, temen saya ini cerita bahwa dia jatuh hati sama seorang cewek dari SMA lain. “Wow! Luar biasa!” pikir saya waktu itu dengan senang dan bangga, berangan-angan bahwa suatu saat nanti di kemudian hari, mereka, yang sudah menikah, tentunya akan tersenyum-senyum mengingat saya yang merupakan bagian dari kisah cinta mereka.

Harap maklumlah, saya dulu masih SMA. Nggak perlu mabuk juga, khayalan ke mana-mana.

Jadi intinya, dia meminta saran, pendapat, dan langkah saya untuk urusan itu. Kawan-kawan motor saya menganggap saya nomer wahid kalau urusan asmara. Memang, dulu, kalau saya lewat depan cewek-cewek, cewek-cewek sering senyum-senyum terus saling bisik-bisik. Bisa jadi karena saya dulu dikira bintang utama film Ada Apa Dengan Cinta. Tapi ada kemungkinan juga sih, mereka begitu karena celana saya robek pantatnya.

Saya, yang dulu referensi romansanya campuran dari Love Hina, Fruit Basket, dengan bumbu Tokimeki Memorial dan digarnish School Rumble, dengan semangat 45 berkata gagah sambil pasang muka Tinju Bintang Utara. “Kalau kamu cowok, kamu harus bikin surat cinta! Ajak dia ketemuan di lapangan KONI. Bilang kamu ingin mengungkapkan perasaan kamu ke dia! Di sana, nanti kamu tembak cewek itu!”

Rupanya, perasaan saya yang menggebu-gebu bisa sampai ke teman saya itu. Dia mengiyakan, dan diapun menulis surat ngajak ketemuan mau ngungkapin perasaan di lapangan KONI. Nulisnya dibantu dengan saya sebagai supervisior, tentunya. Saya lupa isi surat itu kayak gimana. Yang pasti, isinya kalau saya ingat sekarang, adalah kombinasi unyu-unyu menye-menye campur knalpot panas. Maklum anak motor.

Besok paginya, kami ketemuan lagi di depan sekolah cewek yang ditaksir olehnya. Saya datang belakangan, dan dia sedang gugup-gugup grogi di gerbang depan, memperhatikan anak-anak yang masuk sekolah. Saya menepuk pundaknya. Dia kaget. “Woi. Kenapa lagi?” Tanya saya. “Saya takut, Blek.” Jawabnya sambil memandang amplop yang dipegangnya, yang berisi surat yang kami tulis bersama kemarin. “Saya masih nggak tau saya benar-benar suka sama dia atau nggak…”

“Gampang!” Sahut saya jumawa. “Nanti, setelah kamu ngasih surat dan kita ketemu dia di lapangan, kamu akan tahu. Kalau kamu beneran suka, kamu akan… Err… Ah, iya! Merasa there is a butterfly in your stomatch.”

“Apaan itu?” tanyanya bingung.

Saya juga bingung mau jawab apa.

“Pokoknya, nanti kamu akan merasa ada kepakan-kepakan aneh yang membuatmu merasa canggung nanti, di sini…” Ujar saya seraya menunjuk bagian ulu hatinya.

“Saat itu nanti terjadi, kamu akan yakin kamu beneran naksir dia. Kamu bakal grogi, kamu bakal berkeringat dingin, tapi itu berarti dialah cewek yang ditakdirkan untuk kamu. Kamu jangan ragu untuk nembak dia nanti, oke?” Kata saya sambil merebut surat itu darinya. Ia sempat mencegah dan ingin merebut surat itu, tapi saya mendorongnya dan menyuruhnya untuk duduk saja di atas motornya, melihat apa yang saya lakukan. Dia menurut.

Saya menanyakan ke beberapa siswi yang lewat, apakah mereka kenal dengan cewek yang ditaksir teman saya. Setelah beberapa kali mencoba, ada yang kenal. Kebetulan pula teman sekelasnya. Jadi, saya menitipkan surat tersebut dan dengan tersenyum, cewek itu mengiyakan untuk menyampaikan. Saya kembali ke kawan saya yang menunggu sambil melihat saya di kejauhan dari atas motornya, mengatakan semua beres, dan berjanji untuk bertemu kembali sorenya di lapangan KONI, untuk menemaninya nembak cewek. Duh! Kurang epic apa rencana saya, coba? Dia bakalan nembak cewek, kemudian matahari terbenam, hembusan angin menggoyangkan rumput di lapangan… Oh… Masa muda…

Yoa, seperti yang sudah saya bilang, waktu SMA, khayalan itu kemana-mana. Jam 4 sore kan matahari belum terbenam.

Jadi begitulah. Menyesuaikan isi surat yang jam empat sore, dua cowok yankee goblok yang terdiri dari saya dan dia, sudah stenbai di lapangan KONI sejak jam tiga. Menunggu saat-saat jarum jam pindah ke angka 4, saat si dia yang ditaksir teman saya itu tiba. Waktu menunggu yang hanya sejam, bagaikan bertahun-tahun bagi saya, padahal bukan saya yang nembak. Apalagi bagi teman saya itu. Mungkin, saking lamanya waktu berlalu baginya, dia seolah-olah menyaksikan proses terbentuknya jagad raya.

Setelah menghabiskan berbatang-batang rokok sambil berdiri gagah, jongkok, nungging, dan berbagai pose penghilang bosan lainnya, waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Dari jauh, terlihat si cewek datang menuju ke arah kami sambil menunduk. Sepatunya menyisir rerumputan secara perlahan, indah sekali. Saya melihat itu, membayangkan rencana sempurna saya, dan tersenyum sendirian.

“Eh, dia sama siapa tuh?” Ujar teman saya membuyarkan lamunan saya.

Bersama cewek itu, dari arah belakang ada lima orang laki-laki gahar. Dua orang setinggi saya, dan sisanya, walau sedikit lebih pendek, kekar-kekar. Anak kelas tiga semua, sepertinya.

“Jadi kamu yang nulis surat ke cewekku, hah?!” Hardik salah satu dari mereka seraya menunjukkan surat yang kami tulis kemarin, kemudian mencampakkan surat itu ke tanah. Saya dan kawan saya tidak takut. Perkelahian dan huru-hara adalah hal yang biasa bagi kami. Hanya saja, saya tidak ingin, jika sampai ada perkelahian, tentunya kawan saya itu jadi terlihat buruk di hadapan cewek yang dia sukai. Suka bikin ribut, istilahnya. Saya kemudian menoleh ke arahnya, memandang muka kawan saya itu.

Setetes air mata mengalir jatuh dari pipinya. Hanya setetes. Entah karena dia sepikiran dengan saya, entah karena suratnya dicampakkan ke tanah. Dia kemudian tersenyum, dan dengan tegas menjawab “Ya. Saya!”

“Hajar!!!” Teriak cowok di seberang. Mereka maju. Saya maju. Teman saya juga maju. Perkelahian terjadi. Saya sudah tidak tahu siapa yang menang siapa yang kalah. Teman saya dipukul, saya tarik yang mukul terus saya pukul balik, terus entah siapa yang mukul saya dari belakang, kemudian yang mukul saya tadi dipukul lagi sama temen saya. Kacaulah, pokoknya. Tapi, sejak kapan sih, berantem itu nggak kacau?

Dan begitulah. Setelah adu jotos nggak tau siapa yang kalah siapa yang menang terus tau-tau bubar, berakhirlah sore itu, dengan saya yang memapah teman saya yang batuk-batuk nyeri sambil megang perutnya ke arah motor kami yang diparkir di luar lapangan.

Saat dipapah, teman saya mendadak buka suara. “Blek.” Katanya sambil tersenyum ke arah saya. “Sepertinya emang saya bener-bener suka cewek itu.”

“Ha?” Ujar saya dengan heran setengah takut. Sepertinya temen saya ini geger otak atau sejenisnya, pikir saya waktu itu.

Dia kemudian melanjutkan. “Abis perut saya kena pukul tadi, there is a butterfly in my stomatch. Nyerinya nggak ilang-ilang…”

Leave A Comment