Saat Rasa Sepi Datang

Spread the love

Saya senang, kalau ibu saya ada di Dompu. Kalau beliau lagi di Jakarta dan saya di Dompu, rasanya pulang ke rumah abis kerja atau ngapain di luar bener-bener bikin malas. Masuk rumah nggak ada yang nyambut, seperti rumah hantu saja. Cuma ngeliat adik angkat saya yang masih SD, ngegeletak tidur di depan TV yang masih nyala setelah seharian menghilang maen sama temen-temennya. Kadang-kadang, dia tidur di sana ditemenin bapak saya, sambil tidur juga. Itupun kalau bapak saya ada di rumah. Njir, ini rumah apa kamar mayat? Kalau ada ibu, berarti ada yang bangun, terus senyumin pas saya pulang.

“Mom.” Panggil saya. “Serere ja pu mada ke, mai lingi adeku.”

Ibu saya duduk di samping saya kemudian mengelus-elus kepala saya. “Kenapa? Lagi patah hati ya?”

“Opasti, selalu, setiap hari, seumur hidup.” Sahut saya, dan kami tertawa.

“Kenapa lingi ade? Rindu siapa?” Tanyanya. “Saya lagi keinget sama cewek-cewek yang saya suka, tapi nggak pernah saya tembak.” Kepulan asap tebal rokok kretek yang baru saya beli membumbung, seolah isyarat asap ke langit, yang tidak akan pernah bisa ditangkap maksudnya apa.

“Oh? Ada juga ya? Masih normal rupanya.” Ibu saya tertawa. “Coba ceritakan.”

Saya ikut tertawa. “Iya, yah, itulah… Normal lah…” Saya membenarkan kalau saya masih normal. Faklah, bahkan ibu saya sendiri menganggap saya tidak normal sepertinya. Mungkin, di matanya, cowok yang suka sama cowok sekalipun masih kasta normal. Punya rasa suka terhadap sesama manusia, jika dibandingkan dengan saya yang dilihatnya kerjanya ngelus mesin, hewan, dan tumbuhan. “Ya mom. Saya nggak pernah nembak. Saya tahu diri, saya ini pas SMP-SMA balapan liar, berantem, masuk tahanan, bejatlah pokoknya. Tapi dulu, saya merasa nggak masalah. Toh yang saya cari itu cewek buat disayang, bukan buat ditiduri, bukan buat bikin anak. Masih ada dua adik saya di rumah, dulu.” Ujar saya.

“Tapi sekarang sudah nggak. Adik-adik cewek sudah merasa besar semua, sudah pergi, sudah nggak butuh saya.” Saya melanjutkan. “Benar kata mom dulu waktu bilang saya terlihat kesepian. Tapi saya sulit nembak, mom. Ya karena saya tahu diri itu. Saya takut, orang yang saya tembak nggak bener-bener suka sama saya. Nah, kalau saya yang ditembak, serius, ngomong langsung, hadap-hadapan, itu lain soal. Jelas seratus persen bahwa dia suka sama saya.”

“Kamu memang susah. Nembak nggak berani, tapi ngedekatin juga nggak, kan?” Sahut ibu saya. “Dan itu satu hal lagi yang bikin sulit, kamu sama seperti bapak kamu. Cuek.” Ibu saya melanjutkan. “Tapi malah mom mau nikah sama dia pas dilamar. Hahaha…” Lanjutnya sambil tertawa.

Saya mencemooh, “Nggak ada orang lain, kali.”

“Tsk… Tsk… Kamu tahu, mom itu dulu salah satu dari tiga bunga desa. Salah satunya lagi selain mom, tante Eni kamu itu. Boleh tanya sendiri.” Ucapnya dengan mimik serius. Ibu kemudian kembali menerawang. “Waktu itu kami masih kelas satu SMA. Kalau duduk sore-sore deket jendela, lalu lalang cowok-cowok di depannya. Penggemar kami ya jelas banyak. Sing, Laeng…”

“Nae, om-om Cina ncau…” Potong saya.

“Heh, yang Jawa juga ada, kamu tahu juga, kan? Misalnya mas Nis, blablablablabla…” Dan memanjanglah list yang setengah dari nama yang disebutkan oleh ibu saya itu tidak saya ketahui asal-usul sukunya. Orang Amazon juga ada, kali.

“Tapi…” Ibu saya terdiam sesaat. “Bapak kamu lain. Dia nggak ngedeketin mom sama sekali. Mungkin itu yang menarik. Di pikiran mom dulu, ngapa ni orang cuek ama gue, ya?”

Beliau tertawa, dan mau tidak mau, saya ikut tertawa. Bapak saya itu, cueknya brengsek kelas dewa. Waktu bapak saya masih bekerja sebagai kepala perhubungan propinsi dengan pusat, bapak bahkan dengan santai menolak pejabat-pejabat yang mendadak ingin menginap karena kamar wisma sudah duluan dipesan kontingen seniman kebudayaan. Saat diingatkan bawahannya bahwa itu bisa berpengaruh dengan jabatan bapak, dengan santai ia mendengus sambil memasang muka EGP.

“Mom, beda kasus. Sudah bertahun-tahun saya cuek, mom. Tapi ya tetep aja ga dapet-dapet.” Saya nyengir.

“Mom tau, mom nyaranin kamu deketin duluan juga, kamunya yang nggak bakal mampu. Mau dicariin lagi?” Sambung ibu saya.

“Hah, faklah. Si Malda saja yang dulu aja itu belum lihat mukanya. Kucing dalam karung mana lagi yang mau dijual?” Tepis saya.

“Eh, mom ternyata ada loh, fotonya. Bentar deh.” Ibu saya pergi ke arah bufet tempat obat, membongkar hampir seluruh isi laci di bawahnya, dan kembali dengan tiga lembar foto.

Saya melihatnya, foto paman saya, istrinya, dua anak cowok kecil, dan satu anak cewek. “Lihat, matanya bulat gede, kan? Idungnya nggak mancung sih, tapi bulat kecil. Lucu gitu, tidak sia-sia ada darah mesirnya. Apa istilahnya kalau dalam gaya bahasa Bada itu, errr… Stabil harim rey!” Ucap ibu saya jumawa sambil mengacungkan jempol.

“Tapi mom…”

“Ya nak…?”

“Ini foto anak SD mom…!”

“Ya, mau gimana lagi, fotonya adik Malda yang mom punya waktu mom ke sana pas adik Malda masih usia-usia kelas enam. Eh, tapi sekarang pasti cakep, kok. Gimana?”

Saya tidak menjawab. Ibu saya memandang saya cukup lama. Saya menghela napas, dan kamipun terdiam. Mendadak, ibu saya buka suara.

“Ah! Mom tau! Kamu sama kak Niken, putri pamanmu yang toko Volta saja, gimana? Bedanya cuma empat tahun sama kamu, emang sih, ibunya punya darah Cina juga, tapi kan ada darah Belandanya. Wow, cakep itu! Lebih tua dikit lah… Pas kamu 17 tahun, dia 21. Kamu 27, dia 31. Kamu 37, dia empat pu…”

Saya menutup telinga sambil berteriak, “TIDDDDHHHHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!!!”

Leave A Comment