Didedikasikan Untuk Furkan Samadha

Spread the love

Saya akan menceritakan kisah tentang kenalan saya, kawan saya, teman saya, saudara saya, sekaligus orang yang, meski lebih muda dari saya, mampu membuat saya tersenyum kagum. Beberapa memanggilnya dengan Min Ho, sebagian lain memanggilnya Shinchi, ada pula yang menyebutnya Furkep. Tapi Ukang, begitu kami biasa memanggilnya, sebenarnya memiliki nama lengkap Furkan Samadha.

Ukang tidak tinggi. Badannya bulat, gempal dan keras. Ukang akan terlihat imut sempurna, bagai Teddy Bear, jika saja dia tidak memiliki alis yang serupa komik-komik Tapak Naga dari Hongkong itu. Alisnya tidak melengkung. Alisnya adalah dua garis lurus yang membentuk sudut, yang semakin ke arah tengah semakin menipis. Sangar, bukan? Meski begitu, Ukang tidak pelit senyum, bahkan cenderung boros tawa. Orang akan melihatnya sebagai karakter yang serius, untuk sedetik kemudian berubah menjadi kelewat ramah. Matanya yang sudah sipit itu akan hilang, tenggelam dalam dua pipi bulat yang diangkat oleh masing-masing sudut bibirnya yang membentuk tawa.

Ukang berbicara dengan baik, tapi entah mengapa, jika disuruh menjelaskan atau mendeskripsikan sesuatu, struktur kata dan pemilihan kosakatanya menjadi berantakan. “Ini kering om, tapi basah!” atau “Tadi itu saya ke situ, ketemu si anu tuh, nah, dia bilang gitu… Ngerti kan?” Faklah, siapa yang bisa ngerti? Itulah, ketika rasa tak dapat diungkap dengan kata…

Mungkin itu juga yang membuat blognya, isinya nyampur-nyampur, antara tutorial ngoprek komputer, puisi-puisi, dan resep pancake nangka. Dulu, saya menyuruhnya selalu menulis apapun yang bisa dia tulis ke blog. Siapa tahu, jika sering menulis, suatu saat dia akan semakin membaik. Dia melakukannya. Sayangnya, tidak pernah ada perubahan, sampai sekarang. Yang bertambah adalah keragaman konten, mungkin. Terakhir saya iseng membaca blognya, di antara tulisan mengenai resep pisang susu dan sebuah tulisan yang entah sajak entah cerpen, ada tulisan tentang panduan menanam bunga.

Ukang yang saya kenal, adalah orang yang paling sabar dan nrimo. Saya pertama kali benar-benar mengenalnya saat SMA. Dulu, ia bersekolah di Mataram. Di STM, jurusan gambar bangunan. Ukang menumpang tinggal di rumah pamannya, bersama dengan sepupu-sepupunya. Saat itu, komputer standar perkantoran adalah Pentium 4. Paman Ukang yang tidak begitu paham komputer, mendapatkan hibah beberapa komputer bekas dari kantor. Beliau memberikannya ke ponakan-ponakannya. Tentu Ukang sangat gembira, karena dia tidak pernah memiliki komputer. Setelah dibagi secara acak, sepupu-sepupu Ukang mendapatkan komputer Pentium 3 dengan spesifikasi yang bisa dibilang cukup. Ukang? Ukang mendapatkan sebuah Pentium MMX. Pentium 1 bahkan lebih canggih dari komputer itu. Saya ingat benar, karena hanya komputer itu yang datang dalam keadaan mati total, dan sayalah yang memperbaikinya. Komputer buluk penuh debu dengan monitor CRT dan keyboard yang tombol-tombolnya sekeras mesin ketik, dengan RAM 32MB, dan kapasitas harddisk sebesar 800MB.

Betul, MB. Bukan GB. Saya tidak salah tulis.

Dan saat itulah, saya menyaksikan sendiri, bahwa betapa bahagia, bersyukur, dan berbinar-binarnya mata seorang anak STM jurusan gambar bangunan, memandang diam selama 20 menit ke fosil dinosaurus yang sedang berderik-derik ngebooting Windows 98. Itulah komputer pertamanya, dan dengan itulah ia belajar. Mungkin semenjak itulah Ukang menemukan apa yang benar-benar ia sukai. Komputer.

Tapi, saya baru benar-benar mengajarkannya sesuatu, ketika suatu hari Ukang bercerita ke saya, bahwasannya beberapa hari lalu, ia berkunjung ke rumah kawannya yang jurusan teknologi informasi. Saat kawannya itu mengutak-atik komputernya, yang derajat kecanggihannya jika dibandingkan dengan komputer Ukang jauhnya bagaikan inti planet Bumi dengan bintang Sirius, Ukang banyak bertanya, “Ini apa? Itu apa? Kamu lagi ngapain?” Temannya yang merasa jengkel dengan kelakuannya, menjawab ketus. “Nggak usah sok tau. Kamu gambar gambar bangunan saja.”

Maka, untuk pertama kalinya, Ukang yang selalu terlihat gembira, menangis. Begitulah, dia meminta saya untuk mengajarkannya komputer. Apapun, selama berhubungan dengan komputer. Saya, yang saat itu melihat fosil dinosau… Eh, maksud saya komputernya yang hanya mampu dipakai mengetik dengan notepad, memutuskan untuk mengajarkannya tentang web dan dasar-dasar pemrograman. Sering, kami bolak-balik ke warnet tengah malam sampai pagi waktu itu karena ada diskon happy hour, membawa belasan disket yang digunakannya untuk menyimpan data. Saya suka semangatnya belajar. Jika saya menumpang tidur di kamarnya, dia akan duduk mengetik di keyboardnya yang suaranya berisik semalam suntuk. Dari speaker komputernya, terus mengalun lagu yang sama berulang-ulang karena space harddisk yang tidak cukup besar untuk menyimpan lagu. Seperti lirik Shonichi yang berbunyi “usaha keras itu takkan menghianati”, dalam waktu yang tidak lama, Ukang membuat situs temannya itu hancur berantakan.

Ukang telah merengkuh the dark side of the force…

Mungkin, seandainya saja komputernya lebih bagus waktu itu, saya bisa mengajarkannya sesuatu yang lebih… Errr.. Sedikit aman, ya. Ngedit gambar, misalnya. Tapi yah, sudahlah. Masih ada yang saya sukai dari dia. Semangat belajar dan berbagi. Ia bahkan membentuk semacam kelompok belajar “dark side” dengan kawan-kawannya. Saya suka melihat sesuautu yang aneh, dan seaneh apa sih yang bisa kamu bayangkan, jika beberapa anak STM jurusan gambar bangunan barengan ke warnet, terus ngoprek web security? Itulah grupnya, yang ia beri nama ByHack. Melihat mereka dulu, kira-kira sama seperti ngelihat sekumpulan mahasiswa ekonomi ngambil eskul ngerakit pembangkit listrik tenaga nuklir.

Dan hal aneh ini berlanjut saat Ukang melanjutkan kuliah ke kota pelajar, Jogja. Seorang anak STM jurusan gambar bangunan, mengambil jurusan tehnik lingkungan, di universitas tentara bernama UPN Veteran, kemudian menjadikan kamar kos sebagai lemari baju, dan warnet sebagai kamar kos. Jogja, mungkin adalah puncaknya “dunia hitam” Ukang. Nicknamenya, Shinchi, yang dalam bahasa Dompu berarti “sesal”, menduduki klasmen puncak zone-h.org, situs yang mendata serangan-serangan cyber yang dilancarkan ke berbagai situs yang ada di internet. Nicknya itu, bahkan pernah menjadi buron sebuah negara di Amerika selatan. Ukang, meluluh-lantakkan situs berita negara itu, memasang foto Kyoko Fukada di halaman depannya, kemudian menuliskan sebuah puisi dalam bahasa Dompu:

Do o sabune uma nggomi lao nahu.
Kanggela nari ba la luru ma naru.
Pai dawara kalo, na kalau sakali.
Wura waura mbolo.
Sura watipu mbali.

Dan karena adanya foto Kyoko Fukada itulah, situs-situs dari negara tersebut memberitakan bahwa puisi tersebut dicurigai menggunakan bahasa Ainu.

Dalam setiap aksinya, Ukang selalu menyertakan kata Dompu. Saya pernah menanyakan kenapa dia melakukan itu. “Saya ingin Dompu dikenal dunia.” Begitu jawabannya dulu. Ya, Dompu memang jadi terkenal. Kelewat terkenal, malah. Hingga sampai saat ini, channel #dompu di server IRC dalnet yang dulu biasa dipake sama Ukang sebagai markas botnetnya diblack-list kaplingnya dan hanya dikuasai oleh operator server. Saat itu, Ukang tidak memiliki komputer. Komputer pemberian pamannya telah berpulang ke rahmatullah. Harta miliknya hanyalah harddisk 800MB yang ia copot dari komputer itu, dipasangi adaptor IDE to USB, kemudian dia gunakan sebagai flashdisk. Oh, dan sepertinya saya lupa mengatakan bahwa kemampuan Ukang dalam berbahasa Inggris setara Tarzan, sampai saat ini.

Daya kreasi, ketekunan, dan terutama kesabaran Ukang, memang luar biasa. Saya pernah memberinya sebuah kode sumber program yang kegunaanya adalah memonitor apapun hal yang dilakukan oleh orang di komputer tersebut, kemudian mengirimkannya ke e-mail, dan bisa dikontrol dari jarak jauh dengan chatting lewat IRC. Ukang, merubahnya menjadi worm, sehingga program itu mampu menyebarkan dirinya sendiri, dan menjangkiti seluruh warnet di Seturan. Ah, itu masih biasa. Ukang bahkan tidak perlu melakukan serangannya sendiri. Dia merakit segala macam kode yang dia temui, menjadi sebuah bot autoscan-autodeface. Bot itu, jika berhasil terpasang ke sebuah komputer, akan melakukan pengecekan terhadap kelemahan-kelemahan komputer lain, kemudian menjangkitinya, dan jika komputer tersebut adalah web server, maka kembali akan muncul foto keparat Kyoko Fukada itu di halaman utama situs yang ada di web server tersebut. Begitulah berulang-ulang, dan komputer yang terjangkiti, akan login sebagai pengguna IRC, kemudian bisa diperintah oleh Ukang melalui chatting, dan bisa digunakan untuk “mengeroyok” komputer lain. Jumlahnya? Kalau dihitung bisa bikin muntah. Ia berjaya sebagai Zombie Herder, bahkan sebelum Metasploit booming.

Tapi, mungkin, karena yang disukai Ukang hanyalah belajar, yang dikejarnya bukanlah kekuasaan. Mungkin baginya, semuanya hanyalah eksperimen, walaupun memang “limbah” dari eksperimennya benar-benar beracun. Saat berbicara baik teks maupun lisan, ia tetap ramah. Tutur katanya tetap direndahkan serendah-rendahnya. Saat ada orang yang menyombongkan kemampuan di depannya, ia tidak merasa risih untuk malah minta diajari. Oh, dan Ukang sangat sering membagikan pulsa gratis ke teman dan seniornya, entah bersumber dari mana.

Sampai suatu ketika, saya sedang di Dompu, dan Ukang menelpon saya. “Depaan, madakeee, waura di Dompu! Saya sudah di Dompu, lagi di kebun!” Katanya dengan logatnya yang khas. Sepotong-sepotong, mengalun agak panjang tetapi tegas di akhir. Saat Ukang bertutur kata, bahasa Dompu yang tidak memiliki huruf mati itu itu terdengar seperti bahasa Jepang yang diucapkan Samurai periode Sengoku.

Saya senang, Ukang sudah pulang. Tentulah ia sekarang sarjana, bukan? Jadi, saya memacu motor saya menuju kebun keluarganya. Kebun keluarga Ukang ada dua. Satu di sebuah lembah bernama Tekandahu di tengah-tengah gunung yang berjarak 20 kilo di luar kota. Satu lagi di dekat rumahnya. Ke sanalah saya pergi, dan saya melihat Ukang, tengah membabat alang-alang setinggi lutut. Bapaknya berdiri mengawasi anak pertamanya itu di pinggir sambil melipat tangan di dada. “Ukaaang!” Panggil saya.

Ukang menengok, melambaikan tangan, kemudian berlari ke arah saya sambil membawa jombe. Sabit gede yang dia gunakan untuk membabat. Dia berhenti di depan saya, kemudian sambil nyengir, meluncurlah kata-kata dengan logat ala Samurai periode Sengokunya itu.

“Madakeee, kacowa ku itta lao dae! Wunga di Jogja de, laina sakolaku. Ndadiku operator warnet! Saya ini malah tidak sekolah di Jogja. Saya malah jadi operator warnet!”

Saya melongo.

Bapak Ukang berteriak ke arah kami. “Heh! Ngapain kamu ngobrol! Lanjut kerja! Masih ada dua are lagi!” Dan Ukang kembali berlari-lari kecil, kembali ke tempatnya semula untuk melanjutkan membabat alang-alang. Cara jujur dan apa adanya Ukang dalam berbicara memang lain dari yang lain. Tapi yah… Saya masih melongo.

Tapi, Ukang memang tahu diri. Dia sadar, dia mengecewakan orang tuanya dengan kegagalannya. Maka itulah, dia sepenuhnya menerima pekerjaan barunya sebagai petani. Sangat sering, dia menginap sendirian, menjaga kebun di Tekandahu, yang terpencil itu. Menjaga kebun seorang diri bukan perkara gampang. Hama yang paling berbahaya adalah babi hutan. Sudah banyak korban yang meninggal dihantam taring hewan yang satu ini. Ukang melawannya sendirian, dan Ukang tidak punya senapan. Babi-babi hutan itu diperanginya dengan sebilah parang dan kebun yang penuh jebakan buatan tangan. Kalau masuk ke kebun Ukang, rasanya benar-benar seperti masuk medan perang grilya zaman perjuangan kemerdekaan. Bagi transmigran-transmigran dari Bali yang pulang-perginya melewati jalan dekat kebun Ukang, hasil buruannya selalu menjadi langganan. Ukang yang murah hati, sering kali memberikan hasil buruannya secara gratis tanpa imbalan. Mungkin itulah, karena hampir setiap malam berjibaku ngadu nyawa dengan babi hutan, meski terlihat bulat, Ukang tidak lembek. Badannya keras dan padat, mirip Sammo Hung.

Ukang sejak dulu selalu suka menulis puisi. Puisi yang bahasanya hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri. Maka, sambil berperang melawan babi hutan, ia mengisi waktunya dengan menulis penggalan-penggalan puisi di hapenya. Saat mengunjunginya di kebun malam-malam, pernah menanyakan, pada siapakah rangkaian kata-katanya itu ditujukan, karena Ukang tidak punya calon pasangan. “Susi…” ujarnya sambil memandang bulan. “Anak Bima, cinta pertama saya yang saya temui waktu ikut porseni pas SD.”

Tapi Ukang tetaplah Ukang. Saya pernah juga menanyakan ke dia, saat mengingat masa-masa ia berada di puncak dunia hitamnya dulu. “Nggak ngedeface lagi, nih?” Sindir saya sambil tertawa. “Nggak. Setelah punya situs sendiri, saya sudah ngerasain susahnya ngejaga. Minimal orang yang punya nggak malu, lah.” Ucapnya sambil ikut tertawa. “Jadi, mendingan, kalau nemu server yang bolong, kita jagain aja. Sekalian jadiin tempat nebeng download atau apalah!” Sambungnya lagi.

Itulah. Dia tetap bisa mengkoneksikan dirinya ke internet dari antah-berantah sekalipun. Lewat hape. Tahu hape yang menemaninya jaga kebun? Hapenya adalah Nokia candybar jebot yang 256 color, yang ringtonenya polyphonic, nggak bisa muter mp3, dan cuma bisa jalanin java. Saat orang-orang tengah menikmati sinyal 3G, Ukang masih menggunakan GPRS. Pun lewat hapenya itu, ia masih bisa mengontrol server-server zombienya, ngirim puisi ke facebook, atau ngapdet blog. Ya, hanya dengan sebuah hape. Bahkan, jika kamu kesulitan mendownload file, kamu bisa menghubunginya tengah malam buta, dan dia akan memerintahkan salah satu server zombienya yang entah di Rusia, Amerika, Cina, atau negara lainnya, untuk mendownload file tersebut dan menaruhnya di tempat yang lebih mudah bagimu untuk mendownloadnya. Sekali lagi, lewat hape. Ukang benar-benar mengontrol dunia dari kebun.

Tentu, saya tahu persis bagaimana itu bisa dilakukan. Bagaimana prosesnya, cara kerjanya. Tapi, yang membuat saya kagum pada Ukang, adalah kesabarannya untuk melakukan itu semua. Menunggu aplikasi klien IRC yang ngeload lambat, mengetik barisan perintah di tombol keypad hape yang terbatas, melototin layar kecil yang segede korek api, belum lagi kalau hapenya ngehang. Tidak, hanya Ukang yang mampu melakukannya. Jika Battle Programer Shiraase ada versi manusianya, itulah Ukang.

Sikap sabar dan nrimonya tidak pernah berubah. Dari segelintir kecil orang yang benar-benar memegang filsafah Lembo Ade, Lapangkan Hati, salah satunya pastilah Ukang. Bapaknya pernah berjanji membelikannya laptop jika panen berhasil. Berkali-kali panen, laptop tidak kunjung datang. Uang selalu habis untuk kebutuhan kuliah adik Ukang yang pertama dan kedua. Setiap kali janji bapaknya tidak terpenuhi, ia dengan santai berkata, “Tidak apa, insyaAllah panen depan.” Akhirnya, Ukang memiliki laptop, tapi bukan yang baru. Saat adik pertamanya lulus, diberikanlah laptop bekas yang digunakan oleh adiknya dulu untuk Ukang, yang akhirnya membuat dia bisa ngetik perintah ls -la | grep rwxrwxrwx di shell GNU/Linux miliknya sendiri tanpa harus ngeremot server-server anehnya. Ya, dari hasil jaga kebunnya, adik pertama dan keduanya menjadi sarjana. Yang belum tinggal adik perempuannya yang terakhir, yang masih duduk di bangku SMA. Fiat namanya.

Adik-adik Ukang, sering mengatakan kakaknya kasar, tidak sayang, dan semacamnya. Entahlah, saya melihat sebaliknya. Tidak satupun barang-barang milik Ukang yang sebagus adik-adiknya. Kebanyakan malahan merupakan barang sisa, dan dia tetap sabar dengan itu semua. Saya sangat jarang menemukan sosok kakak yang berlaku demikian ke adik-adiknya, apalagi anak pertama. Saya sering duduk di rumah Ukang, berbincang-bincang dengan bapak dan ibunya, kemudian Ukang pulang, dan salah satu adiknya berkata “Koko… Bagi duit dong…” dan Ukang akan merogoh sakunya, melemparkan lembaran berapapun yang terogoh olehnya, sambil berkata cuek “Nih!” Kasar, memang, tapi itulah Ukang.

Dan satu hal lagi. Jika ada orang yang paling mencintai Dompu, mungkin dialah Ukang. Saat orang-orang lain dengan bangga membeli nama yang keren untuk domain pribadi, biasanya malah menggunakan nama mereka sendiri, Ukang malah dengan bangga membeli domain Dompu dot Info. Dan tidak, Dompu dot Info tidak dijadikannya situs pribadi. Dia malah memilih membuat subdomain beralamat furkan.dompu.info untuk blog pribadinya, dan dia menghabiskan waktu mengurus Dompu dot Info, yang bahkan sampai saya menulis ini, tidak pernah memberikannya keuntungan finansial sedikitpun. Mencari penulis untuk mengisi, mengecek spam, mempromosikannya, dan semacamnya, tanpa pernah bosan, dan situs itu tetap bertahan sampai sekarang.

Dia juga tidak mau pergi dari Dompu, seperti yang dilakukan hampir semua teman seangkatannya yang lain. Bukan masalah pekerjaan. Saya sering menawarkannya pekerjaan di luar yang memiliki gaji tinggi, tetapi ditolaknya. Jangankan saya. Teman satu sekolahnya di Mataram dulu, si Gde, bahkan menawarkan pekerjaan dengan gaji jauh lebih tinggi dengan waktu kerja yang lebih santaipun ditolaknya. Sekarang, dia memilih tetap di Dompu, mengabdikan diri dengan bekerja sebagai tenaga Honor di KPU. Berhari-hari tidak pulang, diam di kantor, merekab data pemilu. “Tanggung jawab.” Katanya saat saya menanyakan kenapa lebih memilih pekerjaan itu. Mungkin tanggung jawab terhadap daerah yang memberinya tanah yang dia garap. Mungkin agar dia lebih mudah mempublikasikan informasi tentang Dompu langsung dari sumbernya. Entahlah, saya tidak mengerti. Ukang memang aneh. Siapa sih, yang daftar ke scribid cuma buat mosting Peraturan Pemerintah Dompu dengan alasan, yang lagi-lagi, agar Dompu lebih dikenal dunia? Cuma Ukang, kayaknya.

Seorang teman saya pernah menulis, bahwasannya, di dunia ini, ada dua tipe orang gila yang berurusan dengan teknologi. Yang pertama adalah Evil Genius, yang kedua adalah Mad Scientist. Yang pertama, adalah orang yang membuat robot bertenaga nuklir kemudian menggunakannya untuk menguasai dunia. Yang kedua akan membuat hal yang sama, hanya saja ia akan menggunakannya sebagai pembantu rumah tangga.

Ukang, adalah tipe yang kedua, yang paling sulit diukur prestasinya. Dia ngerakit bot IRC berfitur worm, cuma untuk ngeramein channel. Dia nge-data-mining password facebook lewat seluruh warnet yang ada di Dompu, untuk mengiklankan kegiatan non-profit. Dia nge-reverse engineering aplikasi SIDALIH, untuk membuatnya aplikasi itu bisa streaming lagu Malaysia. Dia nge-abuse sebuah ISP dan ratusan server, hanya untuk bagi-bagi berkas multimedia. Dia, Furkan Samadha. Alias Shinchi. Alias p3l4j4r. Alias r00ti_bakar. Alias h3nc4. Heker terbaik Dompu, yang sampai sekarang bahasa inggrisnya masih setara Tarzan.

Leave A Comment