Menjaga Cewek Itu Susah

Spread the love

Hari ini, saya numpang di kosan kawan cowok saya. Saat sedang membantu dia bikin laporan kerja, datanglah seorang kawan cewek kami yang lain. Sekitar sejam kemudian, kawan cewek tersebut akhirnya ketiduran dalam kamar, mungkin capek ngobrol bertiga sambil ketawa-ketawa. Saya akhirnya duduk cengo sambil nonton film di komputer, sementara kawan saya yang cowok itu mandi.

Tidak lama, kawan cowok saya keluar kosan, meninggalkan saya dengan kawan cewek kami tersebut. Saya kemudian membuka pintu kamar, dan mengganjalnya dengan sepatu agar tetap terbuka.

Beberapa saat kemudian kawan cewek itu terbangun. Ia menyuruh saya menutup pintu yang saya biarkan terbuka itu. Malu dilihat orang kosan yang lain, katanya.

Saya menolaknya. “Malu dilihat orang? Saya ingin menjaga pandangan orang terhadap kamu. Kita, dua orang berlawanan jenis, ada dalam satu kamar. Saya cowok, dan kita bukan suami-istri, sementara kamu masih muda dan cakep. Apa jadinya jika pintu ditutup kemudian orang menyangka kita melakukan hal yang nggak-nggak? Imajinasi orang tidak bisa diduga. Jika pintu tetap terbuka, setidaknya pikiran orang tidak akan sampai seperti itu.”

Tetapi dia tetap bersikeras mau pintu ditutup. “Terserah orang mau bilang apa. Urusan mereka.” Ujar kawan cewek itu acuh. Saya dan dia masih sempat berdebat tentang masalah ini. Akhirnya, karena kawan cowok kami tadi tak kunjung datang dan dia tetap keukeuh nutup pintu, saya mengalah.

Sekarang, cewek ini tidur di dalam dengan tenang setelah pintu ditutup, sementara saya di luar, selonjoran di lante, deket rak sepatu di samping tempat sampah, sambil dikerubutin semut. Saya masih nggak ngerti jalan pikiran cewek ini tentang rasa malu. Fakfakfak.

Leave A Comment