Kayuh Pedal Cumbu Indonesia

Spread the love

Saya selalu merasa janggal dengan orang-orang yang pengennya jalan-jalan ke luar negeri, tapi belum pernah melihat Indonesa sepenuhnya, menjamah setiap jengkal tanah negerinya sendiri. Alasan yang mereka kemukakan biasanya berupa ingin melihat sesuatu yang baru, budaya, bahasa… Ah, tidak. Saya rasa mereka berbohong. Sebenarnya yang mereka kejar adalah prestise. Semua hal yang dijadikan alasan tersebut bisa ditemui di negeri ini, Indonesia, jika kita bisa membuang kebanggan semu tersebut, dan lebih mencintai apa yang menjadi milik kita.

Tahukah anda ada sebuah daerah di Sulawesi yang menggunakan aksara hangul meski tidak bisa berbahasa Korea? Tahukah anda bahwa di Aceh ada sekumpulan orang kampung adat yang bermata biru? Atau jika anda tinggal dan besar di Jakarta, tahukah anda bahwa yang setia mengibarkan bendera merah putih adalah para nelayan di perahu-perahu yang mereka tambatkan di muara angke sementara barisan gedung-gedung megah yang berseberangan dengan mereka tidak? Kebahagiaan itu sederhana, jika kita mau membuka diri.

Saya bersama mereka sebulan, di Dompu, tahun 2012 lalu. Cliff Damora dan M. Rachmat Nur Yulianto. Mereka punya impian, mengelilingi Indonesia selama dua tahun, dengan bersepeda. Itulah yang membuat mereka sempat mampir di kampung saya. Seorang kawan di pulau Bali, keluarga mang Anto, pernah menanyakan ke saya jalur darat dari Jakarta ke Dompu, mengatakan ada saudaranya yang ingin melalui jalur tersebut. Saya tidak pernah menduga, dua orang inilah yang akhirnya datang dengan bersepeda.

Waktu itu, saya juga sempat kedatangan pasangan yang lain. Yang satu ini, dua orang Jerman, laki-bini, yang keliling dunia naik motor. Dua pasangan ini sempat bertemu dan berbincang-bincang di rumah pak Olan, di Sape. Kota terakhir di ujung timur pulau Sumbawa.

“So, tell me, what is KPCI?
“It is Kayuh Pedal Cumbu Indonesia.” Anto menjawab.
Jawaban itu tentu tidak memuaskan bagi dua bule tersebut. Meluncurlah pertanyaan, “And what is that?”
“Kayuh pedal is pedaling bicycle, Indonesia is our country that we love, and cumbu is like you hug, and then, smoooch… Mwah… Mwah…” Sambung Cliff dengan semangat.

Saya menoleh ke arah mereka, tersenyum, dan menjelaskan ke kawan bule saya itu.

“So, there you go, sir. Basically, they ride bicycle around Indonesia and do that. Wait! You guys are actually raping our country damnit!”

Sekarang, mereka sudah kembali dengan selamat sampai di kampung mereka, di Bogor, setelah memperkosa negeri ini, dengan sepeda, sambil jualan kawos. Murah, bukan? Murah banget. Dan sepertinya mereka punya oleh-oleh, entah apa, tapi ini teasernya.

Menurut saya itu kurang Indonesia. Emangnya ini misty mountain? Indonesia itu harus tak-dung-tak dan bahagia.

Jadi, saya buat ulang, yang lebih Indonesia spesial buat mereka.

http://www.youtube.com/watch?v=3gydmGoJ4LY

Leave A Comment