Bahagialah Selalu

Spread the love

Hai! Apa kabar?
Kalau kamu baik-baik saja, tersenyumlah dan katakan “Ya.”
Maka, percayalah, saya akan sangat gembira…

Jadi, itulah awal pembukaan surat ini. Satu-satunya yang bisa saya lakukan, bukan? Awal dari sesuatu yang tak akan pernah tersampaikan, karena untuk menulis langsung ke kamu, jari saya kaku. Ah, jangankan surat. Ngomong langsung ke kamu saja saya pasti gagap. Lebih baik saya berantem lawan 10 orang pake pentungan ketimbang gagap di depan kamu. Entahlah… Mungkin saya cacad, ya?

Begitulah. Ingin rasanya saya menulis sesuatu seperti ‘Kamu lagi ngapain?’ sebagai pembuka surat untuk kamu. Tapi yah, apalah gunanya. Saya pikir, bagaimana bisa kamu membalas, sedangkan pengirimnya orang brengsek seperti saya.

Oh, iya, mendingan saya ceritain sesuatu. Kemarin saya ke Rinjani. Gunung paling tinggi di pulau ini. Yang dulu, waktu saya SMA, pernah saya nyasarin. Sekarang sih, udah nggak nyasar lagi. Hehehe…

Rinjani memang tempat yang enak. Udaranya sejuk. Di Rinjani ada danau, dan ada ikannya, jadi kalau lapar, bisa mancing. Di hutannya juga banyak jamur, kalau sabar nyari. Oh, dan karena ada sumber air panasnya, sepegel-pegelnya jalan kaki ke sana juga ga masalah.

Nah, kalau tentang jalan kaki, kemanapun, saya masih sama kayak biasa. Sukanya jalan sendirian, sukanya paling belakang. Kalau ada orang di belakang, saya persilahkan lewat lebih dulu.

Eh, tapi saya belum cerita kan, kenapa saya cara jalan saya begitu?

Kalau sendirian, saya bisa bebas tersenyum sendiri tanpa ditanyai atau diketawai orang yang ngeliat. Kalau sepi, saya bisa membayangkan secara nyata, bahwa kamu berjalan di depan saya, dan setiap ada tikungan, kamu berbalik, kemudian tersenyum memberi semangat untuk tetap melangkah.

Saya bodoh, ya? Tapi tak mengapa. Harapan saya untuk kamu cukup satu.
Bahagialah selalu…

Leave A Comment