Masih Ingat Saya Kan!

Spread the love

“Bang Blek, ya? Masih ingat saya kan!”

Saya jarang menerima telepon. Eh, tapi saya selalu punya sedikit harapan bahwa yang nelpon itu calon jodoh yang jatuh entah dari manaaa, gitu. Bukan suara cowok. Suara cowok macho pula. Jadi, saya jawab dengan malas banget.

“Nggaaaak… Siapaaahhh…?”

“Saya lah, Perok! Anak CB Bengkulu!”

Ingatan saya mendadak melayang kembali ke tahun lalu. Bang Perok, saya tidak tahu nama aslinya. Cuma nama baptisnya itu yang saya tahu, nama panggilan untuk memanggil anak motor. Nick-lah, atau handle, kalau bahasa internetnya. Perok adalah anak CB yang saya sempat temui di Bengkulu saat saya dulu jalan-jalan ga jelas lintas Sumatra.

Saya janjian ketemu sama dia di benteng Malborough. Bukan mau keren-kerenan, kok. Hanya saja, itu tempat paling dekat yang terjangkau oleh saya yang nginep di pantai, yang tidurnya di atas perahu nelayan yang nyandar di pasir. ATM saya hilang, waktu itu, dan pompa bensin yang bisa diinapi nggak ada, soalnya kota. Bukan jalan lintas propinsi.

Ia bertubuh kecil, kontras dengan motor CBnya yang dimodif ala Chopper, motor-motor ala amerika itu. Shock depannya saja lebih panjang dari ukuran badan Perok yang kayaknya cuma selompatan saya. Biarpun begitu, dandanannya gahar. Rambutnya digerai, dan pake rompi kulit plus celana jeans belel. Yang membedakannya dari anak-anak Hell’s Angels, geng motor internasional itu, hanyalah sendal jepit warna oranye yang dipakainya. Kakinya alergi sama sepatu seperti saya, mungkin.

“Woi bang! Akhirnya ketemu juga kita!” Katanya waktu itu begitu turun dari motor. “Ayoklah! Kita cari makan. Lagi pusing di rumah, lagi berantem sama istri!” Sambungnya.

“Eh? Memang kenapa? Bukannya pengantin baru…?” Saya bertanya.

“Iya, salah saya tadi pas sarapan. Pas makan, saya bilang makanannya nggak enak. Marahlah dia. Tapi masak saya harus bilang enak kalau nggak? Nggak jujur itu!” Bang Perok, memang menikah tiga hari sebelumnya. Saya sebenarnya berencana menghadiri acara itu, tapi ya, apa mau dikata. Karena ATM ilang, saya harus ngamen dulu di tiap kota, untuk dapat duit bensin dan makan ke kota berikutnya. Anjrit, kalau dipikir-pikir, saya jual diri tudemaks waktu itu. Sulap, nyanyi, monolog… Duh, tinggal jadi topeng monyet aja yang belum.

“Oh, kalau itu gampang. Saya punya caranya biar benih-benih cinta tumbuh lagi.” Ujar saya jumawa.

Dia memandang saya dengan tatapan lucu-lucu melecehkan dan berkata, “Heh, mana ada cerita jomblo ngasih nasehat cinta. Yang bener aja…”

“Eh, jangan salah!” Potong saya. “Jomblo atau tidak bukanlah skala dalam urusan romantisme. Saya sudah melatih otak saya dalam jangka waktu lebih lama dari yang situ bayangkan, untuk persiapan jika jodoh jatuh dari langit. Literatur saya full, dari karya-karya Shakespare, Kahlil Gibran, sampe Love Hina-nya Ken Akamatsu. Multatuli, Eduard Dowes Dekker saja pernah bilang bahwa guru untuk hati itu bisa datang dari mana saja, tai kebo sekalipun!”

Oke, untuk yang terakhir, saya bohong.

“Hahahahaha! Yasudah bang, kek mana saranmu?”

Saya tersenyum. “Gini, nanti, abang pulang ke rumah, dan makan lagi masakannya. Bilang aja nggak enak lagi. Oke?”

Dia memandang saya dengan tatapan heran. Sebelum dia memotong pembicaraan saya, saya meneruskan, “Nah, setelah itu, muka istri abang pasti berubah. Mau marah lagi dia. Nah, cepat-cepat situ bangun, dekati dia, pegang bahunya, terus kecup bibirnya, kemudian bilang: Ini yang enak. Gimana? Mantap kan? Hehehehehe…”

Saya memandangnya saat itu dengan tatapan macho, dia membalasnya dengan seringai mupeng, dan kami ngekek kuda bersama sambil pose nice guy. Dua orang bersendal jepit ngekek kuda sambil pose nice guy di benteng Malborough, tentunya terlihat sangat tidak natural sekali. Untung nggak dikira kesurupan.

“Woi! Kok diam? Halo?” Suara di telpon membuyarkan ingatan saya. Cepat-cepat saya menjawab, “Hahahahaha! Iya bang, saya ingat kok! Gimana? Masih dibikin pusing sama istri?”

“Eh ya, hahahahaa! Kuikuti saranmu, bang!” Ujarnya di telpon.

“Terus?”

“Ya, saya cium dia sambil bilang ini yang enak sesuai saranmu. Waktu itu, langsung bersemu pipinya sambil senyum. Berhasil! Tapi yaaa, setelah itu, yaaa…” Dia terdiam sesaat, mencoba menyusun kata-kata.

“Kau taulah, kami jadi terlalu romantis, langsung ciat-ciat gitulah, terus yaaa… Hamil. Tambah pusing saya!”

Leave A Comment