Pingin Phinisi

Spread the love

Jadi, malam ini saya duduk berdua dengan kawan lama saya, yang sekarang bos perusahaan travel di Senggigi. Yang sedang sibuk ngutak-ngatik mekbuk barunya. Saya? Saya duduk cengo di depan komputer desktopnya yang saya pinjam pakai, sambil ngerokok plus minum minuman kaleng yang dia beliin. Saya senang nongkrong di kantornya, soalnya saya berasa kaya. Sudah minjem barang, belagu lagi.

“Harga kapal Phinisi itu berapa, ya?”

Entahlah. Saya memang nggak tau mau ngapain. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut saya ke dia. Memang, banyak kapal Phinisi yang seliweran, karena dijadikan sarana pariwisata untuk turis di seantero Nusa Tenggara. Salah satu tempat persinggahan mereka, ya… Senggigi. Ada dermaga kecil di Pasar Seni, tempat saya biasa mangkal. Mungkin disanalah kapal-kapal indah itu singgah.

“Wah, mahal! Hitungannya itu M!” jawabnya singkat. “Kenapa?” Tanyanya balik.

“Entah.”

Benar, entah. Saya terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang mungkin mampir lewat, singgah sebentar di otak saya.

Ah, saya menemukan alasannya.

“Sepertinya kalau gini terus, masa depan saya bakalan jomblo sampai mampus. Kalau saya tidak punya orang yang mengharapkan kepulangan saya di rumah, katakanlah istri atau anak, mungkin enak, berlayar dengan kapal. Berlayar sampai mati. Selama saya di Nusantara, saya bebas singgah ke mana saja, kan?”

“Iya, tapi harganya itu, bro. Masalahnya itu handmade. Buatan tangan.” Dia menghisap rokoknya kemudian menyambung, “Mahal!”

Ya, benar, mahal. Begitu juga pikiran saya. Entahlah, mendadak saya ngetik di google dengan kata kunci ‘jual kapal laut’. Itulah, kalau lagi cengo, kata kuncinya jadi ga mutu banget.

Eh, tapi dengan kata kunci yang nggak mutu itu, saya malah ketemu situs pembuat kapal dan perahu di Surabaya. Jadilah saya ngeliat-liat isi situs itu. Benar saja, sebuah speedboat tanpa mesin saja berharga diatas dua ratus juta.

“Eh, ini ada yang murah! 35 juta!” Seru saya seketika. Saya klik dan buka, ternyata perahu tanpa mesin, dan yang lebih mantap, tanpa atap, yang buat narik banana boat itu. Saya menoleh ke arahnya dan berkata, “Dipancangin tiang buat layar bisa kali ya?”

Dia tertawa terbahak-bahak.

Sudahlah, saya kembali mengurungkan niat saya. Beli Phinisi gagal, beli speedboat fiber gagal, coba kita ganti haluan. Maka, saya mengganti kata kunci menjadi ‘jual perahu ikan’

Dan saat itulah saya langsung melihat tulisan 8 juta. Delapan? DELAPAN JUTA? Semurah itu untuk sebuah perahu? “Lihat!” Seru saya, “Ada nih, murah banget, delapan juta! Denger speknya, panjang 6 meter… Wuih, gede cuy!” Saya senang sekali dan melanjutkan membaca, “Lebar 60 senti…”

“Perahu jukung nelayan? Hahahahaha! Noh di pantai yang seken 5 juta juga ada!” Dia tertawa lagi. Saya ikut tertawa. Tertawa keras sekali. Tertawa dengan ditemani seseorang memang sangat menyenangkan…

Dan tanpa sadar, kembali tangan saya membuka google, kemudian mengetikkan ‘tutorial membuat perahu sendiri’.

Leave A Comment