Lentera Indonesia, Kiwu, Ghina Sartika

Spread the love

Ah, ini film dokumenter paling bagus tentang Dompu yang bisa saya temukan sampai sekarang. Lokasinya di Kiwu, sebelah utara Dompu, kalau dari arah gunung Tambora ke sebelah timur, yang bibir pantainya setia memandang pulau Sulawesi di seberang samudra Indonesia.

Seandainya, saja, kawan Yahudi paling brengsek saya, si Budiman M. Said masih setia mengajar murid-muridnya di SDN10 Beringin Jaya, yang sama-sama terpencilnya itu, tentulah akan bertaut hati sang guru Boe dengan Ibu Guru Ghina Sartika. Apalagi, dengar-dengar kabar, tipe cewek terbarunya Boe itu yang jilbaban, dan giginya gingsul taringnya.

Boe, si Budiman, berdarah timur tengah. Tepatnya tengah-tengah Israel. Nah, kalau ada orang bermuka tekstur arab ngaku-ngaku Yaman, Hadramaut, atau sekitarnya tapi dari Dompu, dia pasti bukan orang Dompu. Satu Dompu itu isi arabnya arab Yahudi semua. Percayalah, panji perang kesultanan Dompu membuktikan itu.

Saya ingat, alasan terakhir kawan saya itu memilih untuk merubah tipe ceweknya. Saat itu, kami tengah duduk-duduk dini hari menjelang subuh di lapak kosong kelurahan Bada tempat ibunya Boe biasa berjualan lauk-pauk. Tengah madesu, masa depan suram, karena gaji saya abis, dan gajinya dia nggak ada.

“Saya sadar, Blek.” Katanya, dalam bahasa Dompu. “Saya sadar mata bajingan saya jelalatan liat cara berpakaian andereij sekarang. Nafsu, saya. Nah, kalau saya punya istri, nggak rela saya kalau dia dijelalatin sama orang seperti saya.” Maka, demi mendengar itu, tawa saya langsung pecah seiring gonggongan anjing liar dini hari itu.

Sayang, mungkin memang sudah takdir dari Taurat. Tidak ada cerita orang Yahudi dan Sunda bisa bersatu…

Leave A Comment