Wish You Were Here

Spread the love

Hai! Apa kabar?
Perasaan ini selalu berharap agar kamu baik-baik selalu.

Iya, ini surat. Surat yang tidak akan pernah sampai ke kamu, mungkin. Sama seperti setiap kata yang ingin saya utarakan, saat saya bertemu kamu untuk kemudian hanya diam terpaku. Sia-sia, ya? Tapi tetap saja saya ingin menulisnya. Entahlah… Saya tidak mengerti kelakuan saya. Saya tidak tahu.

Kemarin, saya pergi, pergi jauh. Saya mengikuti jalan. Mengikuti jalur hitam pekat panas dan keras buatan manusia hingga ke ujung barat pulau kecil ini. Pulau yang setiap manusianya masih bisa memberikanmu senyuman yang tulus saat kamu menyapa mereka. Saya yakin itu.

Iya, dari dulu saya suka pergi ke tempat-tempat aneh. Tempat yang lengang. Tempat di mana alam masih bisa bernyanyi. Tempat di mana hewan masih bisa bersenandung. Tempat di mana saya masih bisa menatap langit selama yang mau. Tempat di mana saya masih bisa duduk didampingi batu. Tempat di mana saya masih bisa bercengkerama dengan angin yang menghembus. Tempat di mana saya masih bisa terdiam menatap lurus.

Dan di sinilah saya, di sebuah pantai kosong, tanpa rumah satupun. Bahkan, bangunan semi permanen saja tidak ada. Hanya pos penjaga dan barak kecil, di ujung jalan aspal ini. Batas terakhirnya dengan jalan tanah di depan. Dijaga oleh babinsa. Panggilan akrab untuk tentara. Yang ramah menyapa saya. Mungkin beliau-beliau senang bertemu muka baru, karena sudah bosan dengan muka-muka yang rutin dilihatnya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan saat menjaga tempat-tempat terpencil seperti ini.

Kalau melihat laut, saya jadi ingin menceritakan tentang kawan saya. Seorang nelayan. Masih muda. Dia tinggal di sebuah desa di teluk Hu’u di Dompu. Begitu baiknya dia, sehingga jika dia sedang memeriksa jalanya yang dipancang beberapa ratus meter dari pinggir pantai kemudian kamu melambaikan tangan ke arahnya, ingin menumpang mancing, maka yang akan kamu saksikan adalah lelaki kecil, hitam, tapi padat berisi, dengan otot yang tidak dibuat-buat di gym terdekat, mendayung sampannya dengan semangat ke arah pantai untuk mengajakmu turut serta.

Suatu hari, dengan semangat, dia menginformasikan bahwa dia akan berangkat kerja ke Malaysia. Tahukah kamu? Dia terlihat beda dari orang-orang yang ingin jadi TKI, yang pernah saya lihat. Dengan muka berbinar-binar bahagia, dia mengatakan “Saya akan ke Malaysia!” sementara ratusan calon TKI lain akan mengatakannya dengan muka yang susah karena rasa terpaksa yang amat sangat sedangkan dia tidak. Mungkin jiwa petualangnya memanggil, mungkin juga dia hanya tidak lagi merasakan tantangan menghadapi ombak. Atau mungkin dia bahkan pernah menjala paus dan berhasil membawanya pulang? Saya tidak tahu. Saya tidak pernah mendengar lagi kabarnya. Saya harap baik pula kabarnya, selayaknya saya mengharapkan baik pula kabarmu.

Dan itulah. Di tengah kesendirian saya, saya teringat kamu.

http://dompu.org/gudang/wish-you-were-here.jpg

Leave A Comment