Tukang Foto Paling Brengsek Yang Bisa Anda Kenal

Spread the love

Sebagai tukang foto, saya mungkin memang kelewat brengsek. Entahlah, saya selalu merasa hasil foto saya tidak perlu diedit lagi. Saya lebih suka menghabiskan waktu mengutak-ngatik kamera saat pemotretan ketimbang mengurung diri di kamar, menambal sulam setiap cacat pada foto yang dihasilkan jika melakukan pengambilan gambar sekenanya. Hal yang sia-sia, menurut saya. Karena jika dari awal sebuah benda adalah tai anjing, menambahkan es krim coklat tidak akan menghilangkan rasa tai anjingnya.

Oh, dan sebelum kalian bertanya, yup, saya paling suka rasa tai anjing kintamani.

Itulah mengapa saya menghindari permintaan foto prewed dan sebangsanya. “Wah, bagus ya. Nanti tolong dieditin juga, ya?” adalah pertanyaan yang hampir sudah pasti dilontarkan oleh orang-orang yang meminta bantuan saya, memotret kegiatannya bersama orang yang akan dinikahinya, dengan pose memandang langit, burung, UFO, dan semacamnya.

Bukannya saya tidak mengerti cara ngedit atau make software ngedit. Percayalah, kelar baca buku olah digital karya om John Tefon pas SMA dulu, satu kelas saya gempar ngeliat foto hantu di kelas. Bukan. Like, hell, you can’t push something to the limit if it is right at it’s limit, straight out of camera.

Saya sering ngeles dengan nggak bawa kamera, supaya nggak dikasih kerjaan aneh itu, karena saya males bohong. Bohong misalnya dengan mengatakan bahwa gambarnya sudah diedit, padahal nggak. Herannya, mereka percaya juga bahwa gambar yang seratus persen sama itu udah diedit. Padahal, yaaa… Nggak.

Oh, dan jangan tanya, ngelesan nggak bawa kamera itu seringan gagal. Sering, sekarang mereka bawa kamera sendiri. Malah ada yang sengaja beli kamera buat prewed. Entahlah.

Hari kemarin, saya dimintai bantuan teman untuk motret prewed keluarganya. Bukan keluarga dari darah sih, tapi apalah artinya darah jika ada kecocokan hati? Toh keluarga adalah sesuatu yang dibentuk di luar rahim bunda. Tentu, saya dengan senang hati membantu memotret keluarga teman saya itu. Dan sudah tentu pula, kembali permintaan wah-bagus-tinggal-nanti-tolong-editin-ya.

Ada perasaan bersalah yang sangat besar jika saya meminta waktu sehari untuk pura-pura ngedit, kemudian berbohong dengan memberikan berkas yang tidak diedit tetapi mengatakan foto-foto tersebut sudah diedit. Saya juga tidak mengerti apa lagi yang harus diedit dari foto-foto tersebut karena semuanya sudah pas. Malah, saya merasa, jika dieditpun, jatuh-jatuhnya paling lebih jelek.

Jadi, saya naikin saturasi foto-foto tersebut +1, terus saya save lagi. Nggak bohong, kan? Sudah diedit kok!

Leave A Comment