Di Balik Panggung The Next Mentalist

Spread the love

Kriyep-kriyep capek, ngantuk, dan bosen. Ban plastik warna pink menggelantung di badannya, lengkap dengan handuk dua biji. Salah satu tangannya menggenggam erat termos berisi teh panas.

“Kita ini bukan sekedar tukang bantu-bantu. Sebutlah pekerjaan kita ini, errrr… Magic Consultant!” Begitu saya menyemangatinya, di tengah hiruk pikuk studio, gemuruh suara kru, bunyi walky-talky Ground Director, dan angin yang berhembus kencang mengibas tirai-tirai hitam latar belakang peralatan sulap panggung di luar studio.

Cencen, begitu saya memberikannya nama panggilan. Tidaklah perlu disebutkan nama aslinya. Dia adalah keponakan dari salah satu teman saya yang mengikuti sebuah acara pencarian bakat sulap bergengsi di salah satu stasiun televisi swasta. Pamannya, teman saya itulah yang mengajak Cencen untuk ikut bantu-bantu di acara tersebut. Sebuah tim yang terdiri dari tukang baca tarot, stand-up comedy showman, dokter murtad, preman bengkel, dan, yang paling nggak banget, mahasiswa impor dari Bandung, si Cencen, yang bertujuan satu. Membuat pasangan duo magician asal Bandung dan Binjai bertahan selama mungkin di layar kaca. Sebuah tim yang terkesan aneh sendirian dibanding tim lain yang mengenakan seragam, karena sesungguhnya kami seragam untuk tidak berseragam.

“Iya, oom.” Sahut Cencen sambil tersenyum, dengan logat sunda yang sesunda-sundanya sunda. Saya suka anak ini. Saya hanya lima tahun lebih tua dari dia, tapi karena dia tahu saya adalah teman dari pamannya, dia menambahkan “om” sebagai panggilan hormat. Padahal saya, yang lebih muda 6 tahun dari pamannya, bahkan sering memanggil pamannya hanya dengan menyebut nama. Racun Jakarta terlalu merusak DNA saya, sepertinya. Budaya timur still strong on this Cencen. Sekali lagi, saya suka anak ini.

Dan kembali si Cencen termangu menunggu pamannya yang lagi rehersal. Latihan. Gladi resik sendirian untuk pertunjukan yang akan ditampilkan malamnya. Sementara saya kembali membantu pasangan pamannya yang tengah mempersiapkan alat pertunjukan dan latihan blocking.

Maka itulah, malamnya, waktu pertunjukan tiba. Karena sesi magician yang kami, errr… ‘Magic Consultan’-in di luar ruangan, saya, Cencen, dan bang Ncang, temennya si Indra Frenos dokter murtad yang mendadak saya daulat untuk ikut bantu-bantu karena kurang orang, siap stenbai ganteng seadanya di tengah hujan rintik-rintik halaman studio.

Dari dalam studio, terdengar suara MC disambut gemuruh tepuk tangan penonton. Pertanda bahwa beberapa menit lagi, ada pekerjaan yang harus kami lakukan.

“Membungkuk hormatlah, Cen. Tepuk tangan itu sebenarnya untuk kita. Seperti yang sudah saya bilang…”

“Iya oom. Yang main sulapnya itu sebenarnya bukan mereka doang. Kita juga. Cuma mereka aja yang harus ditonjolin di TV.” Sahut Cencen.

Saya tertawa dan berkata, “Yoa! Kamu harus nonton The Prestige!” diiringi senyum simpul bang Ncang yang sepertinya sudah nonton juga.

“Jadi, begitu mereka nanti keluar dari studio ke arah lokasi, kamera ngikut. Nah, kita ngikut di belakang, jangan sampai masuk kamera, melipir ke bawah lampu dari arah belakang penonton, oke?” Saya memulai briefing. “Kalian sampai bawah lampu, saya sendiri yang terus ke samping, ambil baju sama celana, terus bawa ke belakang. Begitu ada cue ‘panik’, kamu lari ke kanan dulu, masuk sudut pandang kamera. Terus balik lagi, saya dan bang Ncang lari maju, kasih saya ban plastik, dan bang Ncang handuk, terus keluar frame, ke belakang lagi. Paham?”

Saya melirik Cencen dan bang Ncang. Keduanya mengangguk. “Waktu di kamera nanti, kita tidak akan lebih dari 3 detik, tapi sebuah sesi pengambilan gambar itu kesatuan. Tanpa batu kerikil, batu besar akan terlihat seperti batu biasa dalam gambar. Perhatian bukan untuk kita, tapi kita harus ada agar perhatian itu bisa ada. Dulu, Shakespeare pernah bilang begitu…”

Saya bohong.

Maka sesi acara tersebut mulai. Semuanya berjalan sesuai rencana, tereksekusi dengan indah gemilang sesuai rencana. Saya rasa bereslah pokoknya. Saya berdiri dengan jumawa.

Mendadak Cencen nyolek-nyolek punggung saya. Saya noleh. Dia kemudian berkata, “Oom, pas cuenya tadi saya tegang. Saya nggak inget di kamera muka saya serius atau ketawa.”

Leave A Comment