Om A Man

Spread the love

Di Jakarta, kamu tidak terikat oleh waktu. Rencana? Apa itu? Seperti saya siang tadi, yang seharusnya ngurusin motor kenalan saya yang lagi nangkring di bengkel krom, mendadak pindah tugas jadi tukang foto keperluan show. Dan demikianlah, saat dua orang teman saya rapat di salah satu gedung stasiun televisi swasta, saya nganggur gila. Maka melangkahlah saya ke luar, mencari kesegaran asap tembakau, karena sesungguhnyalah gedung-gedung di Jakarta jauh lebih sehat dari orang yang bekerja di dalamnya.

Demikianlah bentuk puitis dari dilarang merokok di ruangan ini.

Saya mengenalnya sebagai kafe lelaki sejati, FPI mengenalnya sebagai target operasional bulan puasa, dan kemungkinan besar anda sekalian lebih mengenalnya sebagai warung kopi pinggir jalan tempat ngumpul preman. Itulah yang saya cari dengan menyisir sepanjang jalan protokol karena warung nasi yang di samping gedung sudah beberes nutup dagangan. Saya menemukannya, tepat di bawah jembatan penyebrangan, yang terlihat bosan, jenuh menawarkan jasanya ke orang-orang yang lebih memilih judi nyawa dengan kopaja ketimbang naik tangga.

Selalu menyenangkan duduk menunggu di tempat seperti ini, bagi saya. Alunan musik kafe normal terlalu lembut hingga daftar harga di menunya membuat saya mati berdiri. Perlukah saya ceritakan suasana kafe lelaki sejati agar anda tertarik berkunjung? Baiklah. Sekumpulan orang bermain kartu di pojok, beberapa duduk bertukar informasi dengan isyarat asap dari mulutnya, dan satu orang dengan kaos hitam bertuliskan SEKURITI sedang garuk-garuk dada, atau lebih tepatnya, ngelus gambar ular kobra campur naga ngelilit kambing yang ngintip dari kaosnya. Oh, dan karena sound sistem nggak ada, musik death metal di kafe ini dimainkan oleh mesin diesel angkutan apapun yang lewat jalan. Ini penting, karena mobil mesin empat tak itu K-Pop, dan sepeda motor 2 tak itu jazz campursari.

Ah, saya merasa seperti di rumah sendiri…

Jadi demikianlah, saya memesan segelas kopi, kepada abang penjualnya yang bagi anda mungkin terlihat paling normal di kerumunan itu. Saya kemudian duduk, bersandar ke dinding yang masih lembab sisa hujan semalam suntuk sampai siang. Melempar senyum ke para pemain kartu tersebut, dan mereka membalas senyum saya. Senangnya terlihat normal adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan rasa bahagia. Maka demikianlah, duduklah saya dalam posisi PW, memandang kosong ke depan, memutar playlist lagu yang ada di otak saya karena nggak punya iPod ataupun Walkman. Menanti jodoh yang tak kunjung dat… halah!

Saat duduk diam merajut angan yang semakin membumbung ke awan, turunlah dari jembatan penyebrangan ke pinggir jalan ibu-ibu usia empat puluhan. Menelepon dan berbicara dalam bahasa Hokkian. Oh ya, perlu saya pertegas untuk anda semua, nggak ada itu yang namanya bahasa Cina. Yang ada Mandarin, Hokkian, Tiocu, Khek, blablablabla, dan jika anda mengatakan saya Obsesive Compulsive Disorder, saya terima. Selang beberapa saat, sebuah minibus pribadi berplat hitam menepi dan naiklah si ibu ke dalamnya.

“Om Aman, barusan itu ngomong apa?” sebuah celetukan dari kumpulan pemain kartu terdengar.

“Nih lagi turun. Kamu udah di mana. Mama sudah nyebrang. Cepetan datang. Orang di sini seram-seram.”

Saya kaget. Saya menantikan ucapan macam “mana gue ngarti?”, “palelu ndul!”, atau maksimal terjemahan ngaco film bajakan awal taun 2000an. Tapi, jawaban dari si Om Aman ini, meskipun dengan intonasi robot, kelewat presisi. Dan per kalimat. Dan tanpa tambahan. Dan plis, sekarang itu di mana-mana yang ada kursus bahasa Mandarin, bukan Hokkian.

Saya menengok ke arah suara tersebut berasal. Lelaki paruh baya, duduk mengamati permainan kartu, megang gelas kopi, kaos merah bata rambut sebahu, yang dibungkus slayer biru coklat motif batik. Warna kulitnya sama dengan sendal kulitnya yang terbakar matahari, dan matanya monolid. Maka itu, saya berani nyeletuk.

“Om, Om e hiau kong Hokkian, teng lang ya?”

Dia memandang ke arah saya, tertawa, dan menjawab, “Jadi saya Tang? Nah, terus kamu. Mata kamu ngambil punya mama atau papa?”

Saya ikut tertawa. Dan saat hanya dua orang yang tertawa di tengah kerumunan orang berpandangan bingung, itulah yang akhir-akhir ini ngetren dengan sebutan awkward. Tahukah anda bahwa orang Indonesia sekarang melupakan kata canggung? Niwe, karena merasa awkwa, eh, canggung, si Om Aman ini berkata ke teman-temannya.

“Adek itu nanya, om ini Cina ya? Gitu.” Katanya santai.

“Murtad!” Teriak abang penjual. Tawa pun pecah. Saya langsung teringat teman saya, Rendy, yang memproklamirkan dirinya sebagai Cina murtad karena meski bisa berbahasa Indonesia, Inggris dan sedikit Jepang tapi nggak ngerti satupun rumpun bahasa Cungkuo. Bahkan logat Melayu Baba yang khas peranakan itu saja masih serupa aksen New York jika keluar dari lidah Rendy.

“Kontras aja sih om, seperti yang dibilang sama ibu tadi. Orang di sini seram-seram.” Kata saya, masih sambil tertawa.

“Seram dari mana.” Dia menyeruput kopinya, menyeka dahinya yang basah sehabis tertawa, kemudian melanjutkan, “kita semua sama-sama lahir dan besar di Indonesia. Sama-sama orang Indonesia. Masalah komunikasi paling itu. Yang seram baru besok, tiga kali lebih banyak yang kayak gini dateng ke rumah om makan lontong capgomeh campur soto Betawi!” Kembali kerumunan itu tertawa.

“Mungkin karena pada mirip preman, om…”

“Mirip preman apaan?” Potongnya. “Mereka ini bukan mirip. Emang preman kok! Hubungan baik itu datang karena mau masuk duluan, bukan nunggu didatangin. Kita baik, ya orang baik. Coba, adek nyante aja kan, dari tadi?”

“Tapi dia emang potongannya preman juga sih, om!” Sahut seseorang yang mengenakan jaket kulit sambil menunjuk saya. Rambutnya gondrong sepinggang, duduk sambil memeluk gitar yang, kalau dilihat dari bentuknya, pasti abis jadi sparring partner Chuck Norris. Saya melihatnya, dan saya yakin jika dibandingkan dengan dia, penampilan saya ini setingkat lelaki polos, lemah, dan tak berdosa.

“Hahahaha! Iya juga ya!” tawanya yang kembali disambut tawa yang lain. “Ah, tapi sama kita aman lah. Nih…” Sambung si om sambil membuka slayer batik coklat birunya, melangkah ke arah saya, kemudian meletakkannya ke genggaman saya.

“Kalau kenapa-napa di sini, tunjukin aja. Ada A Man, pasti aman!”

Saya tertawa lagi mendengar ucapannya. Saya suka selera humor orang tua ini. Saya rasa teman-temannya yang disebut seram ini memiliki pikiran yang sama. Saya memasukkan slayer batik coklat biru itu ke kantong, dan mengucapkan terima kasih.

Om A Man alias Aman yang pasti aman kembali duduk dan menyeruput kopinya.

“Saya itu orang Indonesia.” Ia menoleh ke saya kemudian nyambung. “Pernah beli handphone kan?”

Saya mengangguk.

“Nah, pas om lahir, kebetulan nggak ada casing. Jadi orang tua ngasih om casing warisan nenek moyang…”

Leave A Comment