Bermimpi Dengan Mata Terbuka

Spread the love

Pernahkah anda bermimpi saat membuka mata? Saya sering, jika lelah tapi tidak bisa tidur. Yang menyenangkan bagi saya adalah, tidak seperti lucid dream dimana seseorang bisa mengontrol mimpinya, mimpi sambil mata kebuka pada kasus saya hanyalah membuat saya sadar sepenuhnya bahwa itu hanya mimpi, tapi saya tidak bisa mengendalikannya. Dan sama seperti mimpi normal, saat bermimpi anda akan merasa itu nyata.

Biasanya, mimpi yang saya alami seputar apa yang tengah saya kerjakan mendadak selesai. Maklum, kalau capek nggak bisa tidur biasanya saya iseng ngoprek. Tapi, kali ini lain. Beda. Saya akan menceritakannya.

Malam ini, saya kembali capek tapi nggak bisa tidur. Saya juga lagi males ngoprek soalnya yang capek otak. Bukan fisik. Kebetulan hujan reda, jadi, dini hari tadi, jam dua malam, melangkahlah sesosok laki-laki berbungkus sarung dengan sendal jepit, mendaki jalanan becek menuju Dorotoi.

Saya suka pemandangan malam dari puncak Dorotoi. Walau tidak ada bintang, cahaya dari lampu-lampu rumah penduduk Dompu menarik untuk dilihat. Terutama, karena tidak seramai kota besar, titik-titik bercahaya yang tidak terang benderang itu serupa bintang di pekatnya malam. Demikianlah, sesampainya di puncak, saya mencari batu yang cukup besar, mengeringkannya dengan cabikan kardus yang saya temukan, kemudian duduk menyalakan rokok yang saya bawa. Menghisapnya dalam, dan menghembuskannya ke udara.

“Ngapain kamu di sini malam-malam dingin gini, bodoh!”

Saya menoleh. Dia berjalan ke arah saya dari samping. Mengenakan jaket merah tua, bercelana parasut, dan sendal gunung. Saya tahu saya sedang bermimpi dengan mata terbuka, seperti biasa. Dia cewek yang saya suka waktu SMA. Yang karena saya waktu itu sadar diri brengsek, saya nggak pernah bilang kalau saya suka sama dia.

Masih dalam kesadaran bahwa ini mimpi tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Saya memandang ke arahnya sambil bilang: “Njis, memangnya kamu nggak pernah ngelakuin hal bodoh, gitu?”

Untunglah tidak ada orang di sekitar saya saat itu. Terakhir saat saya berbicara dalam mimpi sambil membuka mata, seorang teman yang melihatnya dengan ikhlas memberikan saya obat penenang dosis gajah. Mungkin ada kaitannya dengan latar belakangnya sebagai asisten dokter hewan.

“Pernah sih,” sahut si jaket merah sambil tersenyum. Ia kemudian jongkok di samping saya, memeluk lututnya. Memandang ke arah yang sama dengan saya. Ke taburan lampu-lampu kecil yang diselingi kabut malam itu, jauh di bawah, membentang hingga barisan pegunungan Tekasire di barat Dompu.

Ia kemudian memiringkan kepalanya dan memandang saya. “Hum…” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil lagi kemudian menyambung, “Kebodohan saya, dulu saya pernah suka sama kamu…!”

Saya tertawa. Tertawa keras. Tertawa hingga rokok di bibir saya jatuh dan berdesis menyentuh rerumputan basah di bawah batu tempat saya duduk. “Saya melakukan hal yang lebih bodoh dari yang pernah kamu lakukan!” ucap saya.

Saya kemudian menoleh ke arahnya, membalas senyum, dan berkata: “Saya masih suka sama kamu sampai sekarang.”

Dan mimpi itu selesai. Ditandai dengan hilangnya si jaket merah dalam kejapan mata, dan saya mendapati diri saya tidak menoleh, memaku diam di atas batu tempat saya duduk. Pun rokok saya masih terselip di jari tangan saya dalam keadaan masih menyala. Itulah, sadar sedari masih dalam keadaan bermimpi selalu menyenangkan. Membuat tidak ada pertanyaan benar atau tidakkah yang baru dialami itu muncul. Lebih damai saat terjaga, mungkin istilah yang tepat.

Jadi, kembali saya memandang lurus ke barat. Menghisap lagi rokok saya dalam-dalam, menghembuskannya, tersenyum sendirian, kemudian berbisik pelan.

“Iya, saya masih…”

Leave A Comment