Tanahmu

Spread the love

𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘸𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢.

𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘺𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘯.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯.
𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯.

𝘈𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶.
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪 𝘳𝘪𝘯𝘵𝘪𝘬-𝘳𝘪𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘣𝘶.
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯?

𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘭𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘥𝘢𝘶𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘤𝘢𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯.

𝘜𝘯𝘵𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘢𝘵𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘬𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶…

Puncak itu Doroncanga. Di belakangnya anda bisa lihat, ada Tambora dan teluk Saleh. Sama seperti segudang tempat aneh tempat saya mengambil gambar, itu sama sekali bukan tempat wisata. Semakin sedikit orang yang pernah datang, semakin saya suka. Dan saya rasa, tidak pernah ada orang yang naik motor sampai ke atas Doroncanga. Kenapa saya yakin? Karena ada saat-saat yang mana untuk mencapai puncak, motor dan orang berubah posisi atas dan bawah. Saya yakin anda tahu maksud saya. Satu bukit ini adalah sebongkah batu karang mahabesar berbentuk huruf C.

Lagipula, jika catatan Bo kerajaan benar, bisa jadi Doroncanga adalah bagian dari bibir kawah Tambora saat ketinggiannya masih empat setengah kilometer, sebelum meletus tahun 1814. Jadi, saat Tambora belum meletus, bentuknya sama seperti gunung berapi yang bisa anda lihat di film-film dinosaurus, atau seperti gunung berap Mordor-lah gampangnya. Landai, landai, mendadak mencuat kepundannya sampai dua kilometer. Oh, dan ada es abadinya juga, jadi es-es yang mencair menjadi sungai berair sejuk yang kadang masih membawa bongkahan es yang bisa disajikan untuk raja maupun sultan. Nah, saat erupsi terjadi, meletus pulalah kepundannya itu, terpencar kemana-mana, bahkan sampai atmosfir untuk kembali terjun bebas ke bumi. Dan, saat letusan terjadi, ada dua matahari selama seminggu. Satu bergerak seperti biasa dari barat ke timur, satu tidak pernah berubah posisinya. Ya, Doroncanga tidak padam-padam setelah kehilangan tahtanya sebagai puncak.

Praktis, saya dan motor saya berada di atas puncak the ancient Tambora, bukan? Tidak pernah ada sepeda motor yang sampai ke puncak Tambora yang sekarang, setelah letusan 1814. Maksimal hanya sampai pos tiga, dan naik ke atas dengan berjalan kaki. Itupun bibir kawah, bukan puncak Tambora. Untuk menuju gundukan tanah yang elevasinya paling tinggi di bibir kawah tersebut, para pengendara motor harus melupakan jalur via Sabana dan naik dari jalur lain, tanpa motornya.

Oh, ya. Saya suka naik motor. Suka sekali. Saya sangat suka perasaan bahagia yang membuncah saat menembus angin, saya suka suara lembut kibaran baju yang saya kenakan saat melaju, saya suka melihat barisan pohon di kiri dan kanan lewat sudut mata saya yang seakan berlari, saya suka pemandangan baru yang saya lihat setelah melewati belokan, saya suka rasa hangat dari angin yang mengalir melewati mesin kemudian menghembus kaki saya, saya suka rasa sejuk yang menerpa muka saya walau matahari bersinar terik sekalipun, saya suka perubahan jalan yang saya lewati, dari aspal menjadi batu, menjadi tanah, menjadi rumput, menjadi genangan air. Dan tentu, saya suka mengetahui bahwa saya masih banyak lagi yang saya sukai dari naik motor.

Bapak saya yang pertama kali mengenalkan sepeda motor pada saya. Sepeda motor peninggalan dari mertuanya, kakek saya, yang biasa ia gunakan membawa saya mengikuti dia menyisir aspal tanpa tujuan yang pasti, waktu saya masih kecil. Yamaha L2 bermesin dua langkah yang bahkan sudah sangat ketinggalan jaman saat itu. Motor itu pula yang mengangkut ibu saya sejak dia masih SMA, bersama adik laki-lakinya yang sering memboncengnya. Sebatas transportasi, karena saat keluarga ibu saya mampu membeli mobil, si Harley, begitu teman-teman saya biasa memanggil Yamaha L2 itu, tidak lagi digunakan dan diberikan ke bapak saya. Bapak sayalah yang meneruskan tradisi naik motor bersama ibu saya.

Bapak saya tidak pernah memiliki mobil. Jika plat merah, itu adalah mobil kantor. Pernah sekali waktu ia membawa mobil plat hitam ke rumah, yang adalah mobil kakaknya. Memang, mobil itu bertahun-tahun digunakan oleh keluarga kami, sampai akhirnya diambil kembali oleh kakaknya untuk dijual. Tetapi bapak saya lebih sering menggunakan motor ketimbang mobil. Baik yang plat hitam maupun merah. Dulu, saat kecil, saya pernah menanyakan pada ibu saya, “kenapa keluarga kita tidak pernah memiliki mobil pribadi?”

Ibu saya dengan santai menjawab bahwa nenek melahirkan bapak di atas sepeda motor.

Saya meragukan hal tersebut, sampai saat pensiun bapak bilang, “kalau benar ada remunerasi pensiun pegawai negeri buat saya, saya mau beli Yamaha Byson, terus motoran sama ibu kamu Jakarta Dompu bolak-balik.”

Dan karena remunerasi ngambang, bapak saya hanya bisa menikmati naik Honda Vario yang, kalau dipake non-stop, setiap dua jam sekali harus mampir ke pom bensin karena tangkinya seiprit.

Bapak saya pernah dipercayai memegang Win100 plat merah, motor pamong, kata orang. Sampai motor tersebut diambil kembali oleh negara, bapak merawatnya bagai motor pribadi. Perawatan rutin selalu di bengkel resmi, dengan biaya dari kantung sendiri, karena setiap kali motor plat merah tersebut masuk bengkel, saya ikut dan bapak tidak meminta nota bengkel untuk diuangkan lagi. Sekali waktu, saat dinas, bapak pernah mengajak saya yang waktu itu masih kecil. Dengan seragam lengkap, membawa map, masuk ke desa. Saat masuk ke gerbang desa dengan motor plat merahnya, semua orang keluar menyambut. Bapak akan turun dan menyalami semua orang. Keren sekali.

Setelah besar, saya mencobanya dengan motor Win100 saya, si Toothless, yang juga plat merah. Yang menyambut saya kalau nggak ternak, pedagang yang sibuk dengan dagangannya, atau petani yang sendirian di gubuknya yang juga cuma satu di tanah antah berantah di kaki gunung. Sepertinya saya melupakan pangkat, jabatan, dan instansi saya beda dengan bapak saya.

Fakfakfak.

Tapi itulah, walaupun semua kendaraan roda dua kedinasan digantikan dengan Honda New Megapro atau Absolut Revo, saya tetap merawat si Toothless dengan biaya pribadi, dan tetap mempertahankan plat merahnya. Walaupun setiap cetak ulang plat sangat besar biayanya karena swadaya. Apalagi plat Toothless yang DR tanpa inisial belakang, statusnya adalah kendaraan dinas propinsi, bukan kabupaten. Surat-suratnya diurus di Mataram, pulau sebelah, Lombok. Entahlah jika NTB pecah menjadi dua propinsi nantinya, akankah saya masih bisa mempertahankan plat merahnya yang indah… Adalah kebanggaan tersendiri menaiki kendaraan yang dipercayakan kepadamu oleh negara, dan sangatlah lucu saat kamu masih mengharapkan negara memberikanmu uang bulanan untuk merawatnya.

Sayangnya, banyak cewek yang nggak sepaham sama saya. Makanya jok belakang si Toothless kosong melulu.

Saya kurang suka dengan suara knalpot yang keras. Saya tidak bisa mendengarkan suara mesin, membuat saya tidak bisa mengetahui jika mesin mendadak bermasalah. Juga membuat saya tidak bisa mendengarkan suara lain saat mengendarai sepeda motor. Desir angin di telinga, misalnya. Atau pekikan elang di cakrawala. Atau kepakan sayap rombongan burung yang hinggap di belukar. Atau derap kaki kuda, yang jinak maupun liar.

Lagipula, knalpot bodongan yang suaranya ngejreng itu biasanya nggak punya kompresi yang bener di titik mati bawah kalau empat tak.

Saya juga bingung dengan motor yang lampunya diganti senter kepala pengendaranya, motor yang bannya diganti pake ban sepeda, motor yang ngakunya trail tapi moncong karbunya nggak punya saringan udara, dan motor-motor lain yang menjungkirbalikkan hukum fisika, kimia, dan aerodinamika.

Tapi, saya paling bingung dengan motor-motor mahal yang sangat jarang keluar dari rumahnya. Sekalinya keluar, hanyalah untuk parkir kongkow dengan kawan-kawan sejenisnya di pinggir jalan, taman, lapangan, sawah, dan semacamnya, yang alasan utamanya adalah bensin yang sedikit di tangki. Apalagi ditambah pemilik motor mahal tersebut yang paling lantang suaranya saat harga bensin naik.

Anda punya motor? Nikmatilah dengan menaikinya, membawanya ke tempat-tempat indah yang tidak pernah dipikirkan oleh pengendara motor lain. Jangan pernah merasa enggan untuk pergi tanpa rombongan.

Karena saat anda naik motor sendirian, anda tidak pernah sendirian. Anda berdua. Dengan motor anda.

Leave A Comment