Aksi Solidaritas Dokter: Saat Dokter-Dokter Itu Mogok…

Spread the love

Tolong ya, kalian itu orang-orang bodoh dan awam. Nggak kayak kami yang sekolah. Kebanyakan dari kami sekolahnya mahal, loh. Jangan sok komentar ngikutin media apalagi baca keputusan M.A. karena mereka itu nggak pernah kuliah di bidang kami, sama seperti kalian. Mending kayak kami dong. Berita-berita yang kami dapet itu langsung dan hanya dari teman-teman kami yang sama bidangnya dengan kami.

Karena kami berpendidikan, spasi setelah maupun sebelum tanda baca itu boleh kami gunakan sesuka kami. Elipsis juga ditulisnya berapapun, yang penting bukan tiga. Pake koma juga sah-sah saja. Yang paling penting, “di” sebagai penunjuk tempat dan “di” sebagai imbuhan itu terserah kami kalau urusan pisah nggaknya. Kalian harus paham itu. Dan tolong, ya, hargai kebebasan orang berpendapat dong. Kalau kalian nggak sependapat sama kami, pasti kami unfriend kalian.

Kami demo dan mogok ini bukan menelantarkan kalian, kok. Kami ini tinggi jiwa kemanusiaannya. Makanya, beberapa teman kami tetap ada yang jaga di tempat kerja. Yah, walaupun nggak bisa maksimal juga sih kerjaannya karena kurang orang, apalagi dia nyambi ngerjain kerjaan kami. Lagipula, hanya sehari saja, nggak bakalan kenapa-napa kok. Kondisi orang sakit itu kan statis, nggak bertahap atau memburuk kalau ditinggal sebentar. Ada juga asisten kami yang jagain. Kalau mendadak ada masalah, mereka bisa ngasih solusi walaupun meraba-raba. Maklum, jurusan kami waktu kuliah beda. Spesialisasi mereka ngerawat orang sakit, sedangkan kami belajar nyembuhin.

Dan terakhir, mengertilah kami. Kalau nggak, tolong kalau sakit atau melahirkan, jangan ke rekan-rekan kami yang nggak ngikut aksi solidaritas dengan tetap praktek itu. Hak kami untuk melarang kalian karena profesi kami sama dengan mereka. Kalian ke orang-orang yang gelarnya mbah aja, ya.

Salam hangat,
Orang berpendidikan.

Leave A Comment