Perang Hacking Dengan Australia

Spread the love

“Mas, bisa ajarin saya nge’hacker’ mas? Saya mau ikut bantu perang dengan Australi.”

Pertamanya saya mau protes, seharusnya dia manggil saya Lae karena sejak dari Sumatera kemarin, nama baru saya Farhan Perangin-angin.

Tapi nggak jadi.

Saya memang malas menulis tulisan yang berhubungan dengan komputer. Berapa banyak sih, tulisan saya tentang komputer, bahkan di blog saya (yang jarang apdet itu) sendiri? Tapi yah, si anak usia tujuhbelasan itulah, yang bertanya dengan muka pejuang 45, yang kedatangannya beberapa belas menit yang lalu, yang membuat saya akhirnya minjem hape temen saya buat nulis tulisan ini. Saat saya sedang duduk PW, nongkrong depan warnet kenalan saya. Bukan buat maen internet, kebetulan lagi jalan ke arah BCB, dan preman mana sih yang nggak nolak nongkrong kalau ditawari rokok gratis?

Eh, anu, buat gadis-gadis jomblo, abang tampilannya preman ya, tapi hati abang selembut pantat bayi kok.

Lanjut, saya lagi nggak pengen ngomongin tentang cara nge’hacker’ yang itu. Dafuq, istilah itu datengnya dari mana pula. Kalau ini unsur serapan, mbok ya minimal pake kata kerja. Tapi ah, sudahlah… Sesuatu yang aneh, tergantung bagaimana cara menyikapinya, dan karena itu, saya lebih memilih menyikapinya dari sisi humor. Bisa membuat saya tertawa.

Dan yang lebih membuat saya tertawa sejak dulu, adalah bahwa di dunia ngancurin situs orang, mereka-mereka yang bermain ini ada yang namanya hacker regional. Sudahlah, saya rasa tidak perlu saya jelaskan kenapa persepsi ngancurin situs orang bukan hacker. Itu memang kesalahan berpikir yang salah tentang hacker, tapi sudahlah. Sudah terlalu banyak artikel yang menjelaskan tentang hal tersebut yang bisa dengan mudah di internet.

Yang lucu, dan menghibur tentunya, bagi saya di sini, adalah adanya sekelompok orang yang membawa nama ‘Hacker’ yang karena nasionalitasnya begitu tinggi, membuat sebuah klub bagi mereka berdasarkan regional. Tindak-tanduk mereka juga tentunya demi bangsa dan negara, katanya. Pembela tanah air dan sebangsanya lah. Tapi justru itu yang membuat beberapa kali saya ngakak. Seperti saat ada ‘perang’ sama Australi yang dibicarakan sama si anak.

Seseorang pada posisi hacker, adalah ilmuwan. Saya tahu kenapa dia tertarik. Dia menganggapnya sesuatu yang seru, seperti di film-film bioskop ataupun televisi, padahal tidak. Kehidupan seorang ilmuwan jika difilmkan akan sangat membosankan. Riset, riset, dan riset. Seorang ilmuwan menjual jiwanya untuk pengetahuan. Memang, apa yang dilakukan di film mungkin memang terjadi di dunia nyata, tapi apa yang anda lihat tersebut hanyalah slice of life, 1/1.000.000 dari apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Jika anda tidak percaya itu membosankan, ingatlah guru kimia di kelas anda dulu saat ada pelajaran praktek langsung.

Dan seorang ilmuwan, amatlah sangat tidak nasionalis. Tapi itu bukan berarti tidak nasionalis adalah buruk. Seorang ilmuwan, akan menganggap semua manusia sama saja kedudukannya. Mereka, para ilmuwan kelas dewa, akan menganggap semua mahluk hidup sama. Tidak ada bedanya antara kebo dengan manusia, pohon mangga dengan jelatang. Semua sama. Tidak peduli dari negara mana anda berasal, anda tetaplah manusia.

Seseorang pada posisi hacker, sama dengan ilmuwan, tidak akan pernah memusingkan diri anda orang mana. Sama tidak pusingnya dia apakah dia orang Etopia, Cina, atau ternyata dia hanyalah amuba yang kebetulan mimpi ngoprek komputer. Kultur hacker tidak menilai seseorang tentang kebangsaan, tempat tinggal, usia, dan jenis kelamin. Apa yang diperbuat, hasil pemikiran, karya, atau riset, itulah yang menentukan apakah seseorang dihargai atau tidak.

Dan itulah bagian yang menghibur, lucu bagi saya. Saat sekumpulan bocah memberikan label negara atau daerah di klub ‘Hacker’nya, kemudian atas nama bakti pada nusa dan bangsa, melakukan ‘perang’ suci dengan daerah lain. Karena sejatinya, kultur hacker adalah kultur yang sangat tidak nasionalis. mereka tidak akan pernah ngurusin kamu dari mana, sama siapa, dan sebangsanya. Yang ngurusin begituan cuma Kangen Band sama Yolanda. Tentu, mereka mencintai negara dan bangsanya. Negara Bumi, dan bangsa Manusia. Ah, mungkin itu bisa dimasukkan sebagai nasionalisme juga, barangkali? Saya sepertinya harus lebih mendalami bahasa…

Maka, saya katakan kepada anak itu, “Emmm… Mau liat sulap?” Dan dia menjawab “Mau!” dengan semangat.

Compromise a super computer named human’s brain seems fairly easy doesn’t it…

Leave A Comment