Bule Jepang Itu Ke BCB

Spread the love

Masih ingat dengan bule Jepang yang ketemu dengan saya di Padolo dulu? Yang diajak ngomong bahasa Jepang balas pake bahasa Indonesia? Pas diajak ngomong bahasa Indonesia malah diem ga jawab apa-apa? Terus pas ketemu di tukang tambal ban ngajak ngomong pake bahasa Dompu, dijawab balik pake bahasa Dompu senyum terus diem ga jawab apa-apa?

Saya ketemu lagi dengan dia, untuk ketiga kalinya.

Jadi, ceritanya karena hari ini Idul Adha dan libur, saya rencananya mau ngepel studio BCB. Karena saya nginep di rumahnya si Ukang alias Minho, yang heker terbaik Dompu itu malamnya, siangnya semua motor di rumahnya Minho abis dipake sama keluarganya buat makan-makan di kebun Cyber cabang Dompu yang di belakang terminal. Jadi, saya jalan kaki dari rumahnya di Renda ke Bada, tempat studio BCB berada. Rutenya, Renda – Jalan Baru – Bali Satu – Pasar Bawah – Bada.

Nah, saat lewat di pasar bawah, saya diikuti oleh orang yang pake rimpu. Buat yang gak tau, rimpu itu pakaian tradisional wanita di Dompu. Sekarang sih udah jarang. Terlindas zaman. Berupa sarung tenun yang dipakai menutupi kepala sampai pinggang, dan bagi wanita yang belum menikah, hanya matanya saja yang terlihat. Seperti ninja-lah. Nah, yang ngikutin saya ini pake rimpu ninja itu. Rimpu mpida, istilahnya. Lengkap dengan sendal jepit dan celana pendek, membuat bulu kakinya berkibar kemana-mana. Imej gadis Dompu langsung menguap bagai merebus salju pake kompor elpiji di gurun Sahara.

“Njret, sejak kapan waria Dompu secinta ini sama budaya daerah?” Pikir saya.

Bahkan, kak Niken, dedengkotnya waria Bada, waria paling senior alias tua seantero Bada itu saja sanggulnya ala Lady Gaga kalau hari Kartini.

Jadi, si rimpu mpida ini mengikuti terus saya dari pasar bawah sampai Bada. Saya jalan cepat, dia ngikut. Saya diam, dia pura-pura mandang langit. Saya numpang buang air kecil di mesjid Bada, dia nungguin di pinggir rumahnya si Opin. Fuck, saya tahu saya jomblo dan berharap bisa kayak Rab Ne Bana Di Jodi-nya Shahrukh Khan, film yang artinya puitis sekali, ‘Jodoh Dari Tuhan’. Tapi masak Tuhan ngirimin yang kayak gini buat saya? Ini udah bukan KW lagi. Ini prodak gagal anjret!

Sampai di depan toko Dinda, tiba-tiba si rimpu mpida ini mempercepat langkahnya dan mendahului saya. Setelah itu dia berbalik dan menurunkan kain sarung yang menutupi mulutnya. Saya merasa nggak kenal, sampai dia berucap: “Eee kamu, duru jumpa di beri motoru dan tambarubann kan? Ingatto sayaaa?”

Saya ingat. Orang ini mimpi buruk saya.

Saya merasa tau apa yang bakal kejadian kalau saya jawab entah dengan bahasa Jepang, Indonesia, atau Dompu. Dia pasti akan diam. Diam sambil senyum polos-polos bangke yang bikin saya stres itu. Jadi, saya putuskan untuk pake bahasa Tarzan dulu biar pembicaraannya agak panjang. Saya tunjuk rimpu yang dia pake itu sambil pasang muka heran.

“Ooo, ini? Turadisional krotsu. Dompu. Baaagus!”

Saya pengen gantung diri di monas kantor lurah Bada saat itu juga.

Tapi tidak jadi. Saya jelaskan penjelasan tentang rimpu seperti di atas dalam bahasa Indonesia. Dia melongo. Bahasa Inggris. Dia melongo lagi. Bahasa Jepang, dia melongo, kemudian senyum, terus melongo lagi.

Saya kembali pengen gantung diri di monas kantor lurah.

“Rimpu wa, onna no fuku. Anta wa otoko deshou? Rimpu wa muri, kinnen, forbidden for male, lelaki tidak boleh pake, mone tiloa kani ba laina diru’u mone!” Saya rentet saja dengan bahasa manusia gado-gado, plus bahasa Tarzan yang super ekspresif. Saat bilang onna yang artinya cewek saya ngibas-ngibas tangan jadi rok, saat bilang lelaki saya taruh telunjuk saya di bawah pinggang sambil pelvic thrust, dan semacamnya. Kalau anda melihat saya saat itu, mungkin anda akan menyangka saya nge-wotagei.

“Ooh! Laina diru’u mone? Sou ka? Aaah, wakarimasu… Andurustaaan!” sambut dia sambil nge-wotage… Eh, bahasa Tarzan super ekspresif juga, yang diiringi sign OK.

Saya sudah kehilangan setengah energi saya hanya dalam waktu 5 menit.

“Eetto, tadi saya kepasaru mau buriii ikang, tapi tidakke aada yangu juarr. Rraagi adaa… Ettoo… Anooo… Eee… Mmmhhh… Ano matsuri no namae wa… Nandatteee nee, etooo…”

“Aru raja desu ne?” potong saya. Aru raja adalah bahasa Dompu untuk Ied. Adha dan Fitri, aru raja nae dan aru raja toi.

“Sou sou! Sono kanji! Di pasar tiwara dou! Demooo, uta salepe caru poda banget!”

Besikli, dia membenarkan perkataan saya, kemudian mengatakan bahwa pasar sepi, dan menginformasikan bahwa ikan tongkol pindang yang ingin dia beli enak banget, dengan semua bahasa yang dia bisa, sambil melakukan wotagei.

Saya ragu dia bisa membeli ikan tongkol pindang itu di pasar sekalipun ini bukan hari Idul Adha…

“Kamu mau kemaana? Sayaa eee… Ngangguru tidakkeaada kerujaan.”

Saya menghabiskan 15 menit hidup saya menjelaskan bahwa saya mau ngepel BCB. Tentunya penjelasannya sambil nge-wotagei sampai saya gak tau gimana ngejelasinnya pake tulisan. Naga-naganya pokoknya dia mau ikut bantu-bantu saya ngepel BCB.

Setelah sering dihantam banjir, saya akhirnya tahu, metode paling enak buat ngepel BCB. Ruangannya dibanjiri dulu pake air. Ntar tinggal disapu keluar airnya beserta debu, pasir, puntung rokok, kecoa mati, kodok setengah idup, nyamuk pingsan, lalat sekarat, dan semacamnya. Bangke ular juga kadang-kadang ada. Maka, siang itu, terlihatlah dua manusia aneh bolak-balik dari WC ke studio ngangkut air pake ember sisa cat. Satu gondrong telanjang dada pake celana hansip, satu pake rimpu tapi bawahannya celana pendek, basah-basahan so gay.

Sambil ngangkat air, saya nyanyi na-na-na gitu, lagu random yang keinget. Dua-tiga kali bolak-balik saya bosan dan berhenti. Tiba-tiba dia nyambung nyanyi…

“Kumeengejaru bees, yang muraaai berjaraaang.. Kuiingin ungkaaapkan kepada dirimmuuu…~”

Saya terdiam, menoleh ke arahnya dengan tatapan kaget campur heran. Saya tidak mungkin salah. Itu Oogoe Diamondnya AKB48, yang dari bahasa Jepang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, yang jadi jingle iklannya prodak Indosat itu!

Dia memandang saya balik. Kami terdiam beberapa saat, diiringi suara kumbang random yang nyaring di siang hari, yang kebetulan lagi nemplok PW di monas kantor lurah Bada.

Kemudian dia membuka rimpunya, memperlihatkan baju kaosnya yang ada logonya JKT48 sambil berucap keras: “Indonesia go wa, SAIKO DA!”

Saya terjungkal lengkap dengan ember plus air-airnya.

#dainipponbastard

Leave A Comment