ILC 2013: Motoran Lintas Sumatera 12 – Noro Oi Mangge

Spread the love

Melintasi pantai barat Sumatera diserbu angin dan hujan, apa yang lebih buruk? Dihantam sama selimut kabut dari magrib saat naik melewati bukit barisan, dari arah Bengkulu ke Lampung. Maka dari itu, kemarin, saat sekonyong-konyong mentari mulai membuat selimut putih tebel, basah, dan dingin itu sirna, pikiran saya hanya satu. Kopi panas sambil ngisep kretek.

Suara sruput-sruput kopi plus kretek-tektektek saat rokok kretek dihisap, pastinya lebih hangat dari hotel bintang lima yang kebakaran.

Maka lewatlah saya di dataran tinggi yang penuh dengan rumah adat Lampung itu, mencari warung kopi. Lewat, lewat, dan lewat. Ada warung, tapi masih sepi. Lewat lagi, ada warung, tapi entah kenapa motor saya malas berhenti. Ada belasan warung yang saya lewati tapi entah kenapa tidak satupun ngena di hati, padahal badan sudah menggigil dari ujung kepala sampai kaki.

Dan sayapun akhirnya berhenti di warung itu, warung yang sama seperti warung yang lainnya. Entah apa yang spesial, saya tidak tahu. Pokoknya saya berhenti begitu saja. Dan saya bertanya ke ibu penjualnya.

“Bu, ada kopi?”

“Wah, tidak ada…”

Memang, warung itu baru buka. Si ibu masih menyiapkan dagangannya. Mungkin memang warung itu menyediakan, hanya saja si ibu belum belanja. Jadi saya katakan padanya, “Saya punya kopi sachet bu. Bisa saya beli air panas saja? Nanti saya seduh sendiri.”

Si ibu memandang penampilan saya yang amburadul dan motor saya yang penuh pakaian yang digantung. Begitulah cara saya menjemur pakaian tanpa perlu menghabiskan waktu menunggu kering. Dihantam angin, kering pulalah pakaian itu.

“Masuklah, nanti saya kasih air panas.”

Karena bakalan dikasih air panas gratis, yah, setidaknya saya harus pesan sesuatulah. Makanya, saya pesan Miso. Bihun kuah.

Maka duduklah saya di warung kecil itu, ngaduk kopi instan yang saya beli satu renteng di Indomaret Jakarta, dan setelah keliling Sumatera, tinggal dua sachet. Karena air panas yang direbusin si ibu itu sepanci, saya seduhlah dua-duanya sekaligus.

“Dari mana?” Tanya si Ibu.

“Dari Aceh bu.”

“Oooh…” Dia terdiam sebentar dan melanjutkan, “Aslinya mana?”

Sepertinya tampang saya terlalu miskin untuk ukuran kopral GAM sekalipun.

“Dari NTB, bu.” Jawab saya.

“NTB?”

Saya sudah bosan dengan keberadaan NTB yang tidak pernah dianggap ada di Indonesia oleh penduduk pulau Sumatera. Jadi, saya pikir ibu ini salah denger. Mungkin dia dengernya ITB, Institut Teknologi Bandung. Bukan NTB. Jadi, saya ulang perkataan saya.

“Dari NTB, bu.”

“Iya, NTB! NTBnya mana?”

Ada yang tahu tentang NTB di pulau Sumatera itu rasanya langka banget. Apalagi sampai nanya NTB bagian mana.

“Saya Dompu, bu.”

“Oh ya? saya dari Bima.”

“Iraeeee! De au rawimu ita ese doro tabe kombi lirina ke?!” Sambut saya dengan keras dan kaget.

“Irrraooo! Mu auku mai santuda ara ake ke amaniaeee?!” Balasnya dengan lebih menggelegar.

Orang Dompu akan menggunakan Irae, orang Bima akan menggunakan Irao, it is isi tu now wu kem from wer, rait?

Saya dan si Ibu berbincang lama. Suami si Ibu juga dari Bima. Sudah lama menetap di desa atas gunung random di Lampung tersebut. Mereka fasih berbahasa Lampung. Anak mereka juga. Bahkan suaminya sempat menjabat sebagai kepala desa.

Yoa, kepala desa. Orang dari tanah NTB sana, jadi kepala desa di desa asli Lampung, bukan desa transmigrasi.

“Memang tiwau kaimu politik dou Mbojo, kamanae…!” Ujar saya, dan kamipun tertawa terbahak-bahak.

Orang Dompu dan Bima dari NTB, memang stereotipenya perantau. Hampir setengah dari mereka berada di luar daerahnya. Hanya saja, karena jumlah penduduknya yang kecil, tidak sebanding dengan Jawa bahkan Minang, menemukan mereka di belantara Lampung adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi, jika mereka merantau, mereka akan mati-matian mempelajari bahasa dan logat daerah yang bersangkutan, sehingga sangat sulit menemukannya diantara penduduk lokal, kecuali langsung bertanya. Bekal utama terjun dalam dunia perpolitikan, saya rasa.

“Ai, ndedesi tahora, diausi ngahamu miso. Dou dana ndai musti mu noro oi mangge wau!”

Translasinya lebih kurang, “Fuck that miso. You are from our land, you must noro oi mangge.”

Noro Oi Mangge, seruput air asam, adalah makanan yang se-khas-khasnya makanan orang Dompu-Bima dari NTB. Lupakan Dahi dan Timbu, tape ketan dan lemang di Sumatera Utara juga ada! Menurut saya, itu adalah salah satu cara orang Dompu atau Bima ngetes orang random yang lewat, layak apa nggak kamu satu tanah dengan saya. Makanan ini, intinya berupa air dicampur asam gunung, dan dimakan dengan nasi.

Anda beragam resep “Oi Mangge”, yang membuat kita tahu dari mana asal orang yang menyajikan. Menurut saya, resep yang paling ekstrim adalah milik orang dari daerah Bima dalam, Sambori: Asam gunung dicampur air mentah di-garnish terong kecil.

Untunglah, ibu ini bukan orang Sambori. Jadi, resepnya adalah asam gunung dicampur air, ditambahi cabe rawit dan kemangi, dan di-garnish ikan teri goreng.

Maka itulah buka puasa saya, setelah semaleman nggak makan. Nasi semangkuk gede pake tambah, dan Noro Oi Mangge!

Menyaksikan saya makan, si ibu ngeluarin hape.

“Samporo, ndaiku ma talifo wau sadoho di Kalimantan. Halo? Irrraaaooo!!! De sena adeku sanai ake, nifi auku kasangadina, ato romo ba ruma. De mai rai kancaru dou ndai ke, dulana di Aceh lao aka Jakarta. De iyo, buneku eda nggomi doho ede sena adeku, lampa tabe kombi lirina ke mai santudana ara! Ha? Oh, iyo! Paha ni! De paha kai oi mangge!”

Sayapun tersedak sambil tertawa terbahak-bahak.

————————————————————–
Oke, selamat tinggal Mataram. Saya ke Dompu dulu. Sebarkan ke semua cina ro angi, jika kalian lewat di jalan raya Liwa di tengah gunung Lampung sana, singgahlah ke warung di depan sekolah ini!

Leave A Comment