Dari NTB? Kok Putih?

Spread the love

“Hah? Asal NTB?”

“Iya, da.”

“Kok putih?!”

Hanjrit, ini uda-uda padang buta warna semua, ya? Apa nggak liat, semua bagian badan saya sudah gosong sebulan terpapar matahari Sumatera sambil didempul debu tanah lintas barat.

“Onde mande tuesday wednesday, segini ini masih dibilang putih, uda?” Saya memperjelas dengan mengangkat punggung tangan saya. Bosan setiap kali makan di Sumatera Barat penuh dengan geleng-geleng kepala, macam tari payuang sahajo rupanyo…

“Indak, indak… Minumnya apo?” Si uda senyum-senyum mengalihkan pembicaraan.

“Aie angek ciek. Ndado, aie tajun juga boleh.”

Oh ya, saya belum cerita. Di Sumatera Barat sendiri, nasi padang itu ada dua jenis. Nasi Kapau, sama Nasi Ampera. Saya nggak tau bedanya apaan, enak semua lah. Kecuali entah kenapa, setiap saya masuk yang kapau, yang jaga cewek. Yang ampera cowok. Cuma dua-duanya ya itu, selalu heran setiap saya nyebut asal saya dari mana.

“Ni, nasi tambuah ciek!” seru saya karena merasa sayang rendang kapau di piring saya masih nyisa… Baunya. Maka datanglah nasi pesanan saya, dibawakan sama yang jaga warung. Sepertinya masih sepantaran saya umurnya, kalau nggak dibawah, malah.

“Bukan orang minang ya? Aslinya mana, bang? Medan?” Katanya sambil meletakkan piring berisi nasi pesanan saya.

Alamaak, rupa-rupanya taunya dia bahasa padangku dapat belajar dari seringnya kukeluar masuk rumah makan padang, bah! Loh, cam manak pulak logak tulisanku berubah ke logak batak, ah, bangke kali lah!”

“Indak, ambo dari NTB.”

Begitulah jawaban orang yang udah ketauan nggak pake celana dalem, tapi tetap ngotot kalau pake celana dalem model transparan.

“Oooh… NTB…?”

Sepertinya saya tahu kelanjutannya.

“Kok putih?”

Tuh kan.

“Putih apanya sih, lihat deh, baik-baik. Putih dari mananya? Saya bingung derajat putih di Sumatera Barat ini, uni. Kalau kasta putih itu seperti saya, lah kalau yang kayak uni itu apa? Lampu neon?”

“Hihihi… Bukan begitu, bang.” Dia tertawa kemudian melanjutkan, “Maksudnya ya, tidak seperti itu, yang seperti yang dari nusa tenggara-nusa tenggara itulah…”

Oh, saya mulai paham maksudnya. “Uni pasti baru pertama ketemu orang NTB ya? Tau Nusa Tenggara dari TV saja kan, selama ini?”

Dia mengiyakan.

“Mungkin maksud uni itu orang NTT, Nusa Tenggara Timur. NTT tidak sama dengan NTB. Kalaupun maksud uni NTT, itu masih salah. Kulit orang NTT masih putih kalau menurut tingkatan yang uni maksud. Kawasan nusa tenggara itu masih dominan proto malayan, uni. Jadi baik NTB maupun NTT, kulitnya kuning atau coklat. Papua baru Melanesia, yang masuk kategori uni. Jadi, basisnya orang nusa tenggara itu sama juga dengan orang minang.”

“Terus, yang di TV?”

“Yang masuk TV biasanya yang disuting yang kerjanya di luar mulu lah uni. Ini Indonesia. Kena sinar matahari sebentar saja dijamin gosonglah. Coba saja uni berjemur sebentar di luar. Balik-balik jadi rendang kapau lah uni.”

Dia tertawa lagi. Saya melanjutkan, “Malah banyak yang putih kalau orang NTT, uni. Putih eropa. Tau orang Lamno di Aceh? Nah, yang punya darah Portugis di NTT juga ada. Orang Porto panggilannya.”

Si uni menjawab dengan “Oooh” sepanjang bukit barisan.

Saya punya teman berdarah Porto di Dompu. Edhi Kurniawan namanya. Kalau orang Lamno matanya biru karena darah eropa, itu karena mata adalah cermin hati. Jatuh cintanya dari mata turun ke hati.

Kalau Edi, nurun ke kulitnya doang yang putih. Matanya nggak biru. Itupun lengan dan betisnya habis dibakar matahari. Soalnya, Edi itu rajaseks. Dari kulit turun ke ranjang.

“Jadi begitulah uni. Telpon uda di rumah makan padang di Dompu saja kalau mau konfirmasi.”

Si uni tertawa, menoleh ke belakang, dan manggil uda yang lagi masukin nasi sebakul ke pemanas.

“Da, siko jo uda! Abang ini dari NTB.”

Si uda menoleh, dan tergopoh-gopoh datang melihat saya.

“Mana… Mana…? Oooh, dari NTB?”

“Iya, da.”

“Kok putih?!”

if [ “orang ntb” = “kurang item” ]
then
echo “kok putih?!”
else
echo “ei mokai budi pu bapa ni ay, ei mokai budi pu bapa ni yeee, ei mokai budi pu kakaaa, ei mokai budi pu ay semuanya ay~”
fi

Leave A Comment