Perang Petasan Di Bada

Spread the love

“Sebenarnya kami yakin, bulan puasa tahun ini di Dompu akan bersih dari petasan. Pak kapolres sendiri sudah sweeping habis dan bisa dibilang pedagang sudah diwanti-wanti untuk tidak jualan.” Katanya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Pak Jae, saya biasa mempersingkat nama aslinya yang memang sebenarnya sudah singkat. Hanya satu, tanpa nama depan ataupun belakang. Beliau adalah salah seorang anggota yang lama mengabdi di jajaran kepolisian Dompu. Hari ini, saat saya sedang bakar-bakar kayu menghangatkan badan setelah ngoprek calon rombong dagangan anak-anak BCB, dia melihat saya dan mampir ngajak ngobrol. Mungkin, karena Dompu sudah memasuki musim dingin, beliau, sama seperti kebanyakan orang di musim ini tertarik nyala api yang menari-nari.

“Ah, sulit pak, ngelarang orang. Itu sudah tradisi. Apalagi ntar pas Idul Fitri, nggak mungkin bisa dilawan itu.” Jawab saya sekenanya sambil ngumpulin apa saja yang kelihatannya bisa nambah api jadi gede.

“Nggak juga, sebenarnya sosialisasi sudah gencar kok, dan masyarakat mengiyakan. Hanya saja, memang, orang-orang kalau sudah dipancing sekali aja, ketagihan deh.”

Ia menghela napas dan menyambung, “seandainya saja pas baru mau masuk bulan puasa kemarin di Bada sini nggak ada yang main begituan, ya aturannya orang-orang lain ga bakal kepancing.”

“Maksud bapak?” Tanya saya.

“Iya, sekitar sehari sebelum puasa kemarin atau dua hari, di sekitar sini kan sampai ada perang mercon. Nggak tau siapa yang mulai. Nah, itu awal masalahnya. Tapi seandainya saja itu nggak ada, saya rasa bulan puasa ini kita bebas petasan. Setidaknya sampai Idul Fitri.”

Saya tiba-tiba teringat seorang kawan, Hendrik Emon.

Bentar, saya ingat-ingat…
“Ah, sial ditipu gua, ga ada yang bener nyalanya, balikin duit guaaa! Gini deh, kamu orang, beli petasan cabe. Nih, beli semua.”
“Siap bang.”
E*on, A*is, C*k, P*ace, Dan kekacauan itupun bermula…
Emang mafia lu semua.

Tersenyum pasrah saya menoleh ke arah pak Jae dan menyahut: “He’eh… Memang susah, pak…”

Dan pak Jae kemudian melemparkan plastik bekas minumannya yang segera dilalap api.

Leave A Comment