Cara Membujuk Orang Yang Percaya Perdukunan Agar Berobat Ke Dokter

Spread the love

Beberapa bulan lalu, saya berkunjung ke rumah seorang binaan. Istrinya mengatakan bahwa suaminya sedang menjenguk suami kakaknya yang sakit keras. Saya kemudian diantar oleh istrinya ke rumah saudaranya itu, beberapa kilo dari rumah binaan saya.

Saya melihat kondisi si bapak memang lemah. Batuk-batuk basah, berdahak, dan berdarah. Saya yakin ini TBC, apalagi ia bekerja sambilan sebagai pemecah batu untuk bahan bangunan. Saya heran dan bertanya, “mengapa tidak dibawa ke rumah sakit?”
Istrinya mengatakan bahwa sudah pernah, tapi tidak sembuh. Setelah saya tanyakan lagi, ternyata itu hanya sekali cek, dan bukan rumah sakit melainkan puskesmas. Saya menyarankan ke rumah sakit, tapi si bapak ngeyel.

“Ini diguna-guna orang. Bukan sakit. Adik saya juga pernah begini. Dibawa ke dukun waktu itu sembuh, tapi sayang, dukunnya sekarang sudah meninggal.” katanya dalam bahasa Dompu.

Saya tanyakan, sudah berapa dukun yang mereka kunjungi kali ini. Rupanya sudah cukup banyak. Tidak satupun yang berhasil. Saya mencoba membujuk pasutri ini untuk ke dokter, tapi mereka tidak mau juga. Katanya, tiga hari lagi mau ke Wera, di sana ada dukun yang cukup “pintar”, kabarnya.

Saya capek, jadi saya bilang: “Tahora. Mada ke wara saloa nariku. Bunesi coba wau kataho ba mada?” (Baiklah. Saya bisa sedikit ilmu ginian. Bagaimana kalau saya coba obati?)

“De taho ni ana, kombi wara romo arujiki ra ma ndaimure…” (Wah, baik nak, mungkin memang rejeki kami anak datang berkunjung…), jawabnya.

Maka saya meminta semangkok air dan telur ayam kampung, kemudian keluar rumah untuk “mempersiapkan diri”. Saat air dan telur siap, saya masuk dan mulai komat-kamit sambil membasuh dada si bapak dengan air, kemudian “mengeluarkan” beberapa patahan tulang. Sebagai pamungkas, tidak lupa telur saya pecahkan dan “dari dalamnya keluar” paku karatan.

Saya menghembuskan napas dalam-dalam, memandang sekeliling, kemudian berkata: “Waura ke. Pala dei wili ita re waura ngasa ba ake. Waura nda’a, ede meheta re losa ra’a. Laopu di dokter, loaku mbaka wali.” (Sudah selesai. Sayangnya di dalam dada bapak sudah luka akibat benda ini. Pergilah ke dokter supaya luka itu diobati dan sembuh.)

Mereka mengiyakan, dan sayapun pergi.

Sore ini, suami-istri tersebut berkunjung ke kantor saya. Suaminya sudah sembuh, dan mereka datang membawakan saya pisang, pepaya, dan nangka. Saya tersenyum dan menerimanya kemudian merogoh saku saya, mengeluarkan secarik kertas bekas, meniupnya dengan pelan, kemudian memberikannya ke si bapak sambil berkata:

“Di pohon tua dekat tempat bapak biasa mecahin batu, ada yang ninggalin. Kalau bapak lagi kerja, bungkus kertas ini dengan kain tenun, dan ikatkan menutupi mulut serta hidung bapak.”

——————
——————

Jangan lupa dukung saya sebagai Shaman King, dapil asia pasifik dan sekitarnya.

#sleightofhands

Leave A Comment