Persaudaraan Tidak Perlu Mengenal Nama

Spread the love

Saat antri obat di puskesmas hari ini, saya ditanyain sama orang di sebelah.

“Bang, nomer berapa?”
“Sepuluh,” jawab saya sambil memandang ke lantai sambil teler puyeng meler. Saat yang bersamaan, motor dengan knalpot yang sudah berevolusi jadi terompet Azrael lewat sehingga dia tidak mendengar jawaban saya.
“Berapa?”
“10…” dan saya seharusnya menunggu sampai motor itu hilang di cakrawala dulu baru menjawab. Lagi-lagi dia tidak mendengar jawaban saya.

“Ya?” dia bertanya sekali lagi. Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya lagi cacat fisik, mental, dan hidung, saya menjawab ngasal:

“Guadosalam.”

“Oh, ya? Tadinya saya dari Narshe, ternyata kebalik. Rupanya Alexandria. Nah mbak yang barusan dipanggil itu kalau ga salah dari Midgar. Jadi, giliran kita sebentar lagi.”

Saya menoleh ke arahnya dan dia pun menatap saya dengan penuh arti kemudian kami berpelukan.

Leave A Comment