Surat, Dariku, Di Sudirman, Untukmu…

Spread the love

Hai.
Saat ini aku sendiri, di kota besar ini.
Kota yang dikatakan mereka tempat menggapai mimpi.
Kota yang di dalamnya ada namamu.
Maka jadilah, di tengah-tengah gemerlapnya lampu ibukota negeri ini, saat fajar mulai bersiap naik ke panggungnya, aku teringat engkau.

Aku anak kampung, wahai sang nama.
Bagiku, malam dan senyum adalah gemerlapnya kejora, saat dimana atap dunia bertaburkan pasir-pasir bercahaya, saat keramaian adalah perbincangan antara bulan dan bintang, yang diiringi dawai jangkrik dan desir daun.

Bagimu, setia adalah menanti munculnya lampu-lampu metropolis, yang saturasinya beragam bagai manusia, besar, kecil, tua, muda, yang rangkaiannya menari-nari dengan berbagai macam rupanya yang elok dan menarik mata, putih, kuning, hijau, biru, hingga merah marun.

Aku yang selalu mulai memandang sembilan puluh derajat hingga cakrawala.
Engkau yang selalu memulainya dari lurus kemudian mengangkasa.

“Apa indahnya layar kelam dengan titik-titik random berwarna sama yang letaknya tidak teratur?”

“Apa indahnya hutan beton berasap dengan kunang-kunang imitasi yang polanya selalu tetap?”

Dan walaupun jarak kita terpaut hanya lima senti, cara pandang kita, bagaimana kita melihat dunia, jalan yang kita lihat, tidak bertaut barang sedikitpun.

Sekalipun sakura di film itu bertambah kecepatannya, entah kapan.

Sudirman,
hari kedua puluh,
bulan pertama 2013.
Dari seseorang yang belum paham
apa itu adoring city lights.

Leave A Comment